Investasi Lebih Besar dari Tabungan, Indonesia di Ambang Resesi Menyakitkan

Kwik menjelaskan, inti dari teori overinvestment adalah kegiatan investasi selalu lebih besar dari tabungan

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Mantan Menteri Koordinator Ekonomi Kwik Kian Gie menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (6/6/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom sekaligus politikus senior Kwik Kian Gie mengatakan, ekonomi Indonesia saat ini tengah menuju tahap resesi. Hal itu ditandai dengan langkanya modal saat kegiatan investasi tinggi.

Kwik menyebut, kondisi ekonomi di Indonesia yang terjadi saat ini sejalan dengan teori overinvestment.

Kwik menjelaskan, inti dari teori overinvestment adalah kegiatan investasi selalu lebih besar dari tabungan yang menyebabkan pembiayaan investasi dilakukan dengan menggunakan kredit dari bank.

"Artinya, selama gelombang pasang, pembentukan modal sendiri atau equity capital tertinggal dibandingkan dengan kesempatan dan gairah investasi," kata Kwik saat paparan dalam seminar nasional di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Meski demikian, kemampuan bank dalam memberikan kredit memiliki batas. Suatu saat nanti, kredit bank akan berkurang sehingga investasi akan berkurang, dan krisis dimulai.

Kelompok teori ini lanjut dia, berpendapat bahwa untuk menghindari krisis harus dilakukan selama kegiatan investasi mencapai gelombang pasang.

Salah satu caranya kata mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tersebut, yaitu dengan mengerem investasi.

"Dengan mengerem investasi, kita memang memasuki resesi yang akan merupakan proses yang menyakitkan, tetapi tidak bisa kita hindarkan. Ini adalah biaya yang dari waktu ke waktu harus kita bayar karena kita ingin memiliki ekonomi yang tidak sentralistik dan tidak otoriter," tambah dia.

Baca: Komisi Yudisial: Hakim Pengadilan Pajak Jangan Hanya Diisi Pejabat Pajak

Baca: Tarif Cukai Rokok Kembali Naik, Diumumkan Paling Lambat Minggu Depan

Kwik bilang, yang bisa dilakukan Indonesia yaitu dengan kebijakan uang ketat (tight money policy), penjadwalan kembali proyek-proyek besar tanpa pandang bulu milik siapa proyek tersebut, dan mengendalikan kredit komersial dari luar negeri.

Jika krisis terlanjur terjadi lanjut dia, Indonesia tidak dapat berbuat lain. Indonesia lanjut dia, hanya bisa menyerahkan penyembuhannya pada proses alamiah yang sangat menyakitkan.

"Artinya, kita tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan resesi ekonomi sampai mencapai titik balik yang terendah dan proses gelombang pasang dimulai lagi berdasarkan titik keseimbangan baru yang terletak pada tingkat the lower turning point," ujarnya.

 
Reporter: Adinda Ade Mustami 

Berita Populer
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved