Breaking News:

Anggaran LRT Jabodebek Membengkak, Menhub Bilang Itu Cuma Pilihan

"Tapi saya dengar sudah ada suatu value enginering sehingga harganya lebih kompetitif. Ini pilihan. Pasti tidak Rp 31 triliun. Itu kan pilihan saja"

Budi Karya Sumadi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggaran pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek membengkak dari Rp 26,7 triliun menjadi Rp 31 triliun.

Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, angka tersebut belum pasti atau masih berupa rancangan.

"Enggak, enggak bengkak. Itu cuma pilihan," ungkap Budi Karya saat ditemui di kawsan Karet, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017).

Budi menjelaskan, perubahan jumlah investasi tersebut karena akan ada teknologi baru yang diterapkan pada sistem persinyalan LRT yang membutuhkan dana hingga Rp 1,7 Triliun.

Poin lainnya adalah penambahan dua stasiun di kawasan Halim dan Cawang Cikoko, Jakarta Timur.

"Ya misal karena sinyal, itu mau Fixed Block apa Moving Block, itu bedanya 1,7 T. Kita mau nambah stasiun apa enggak mau beli depo apa enggak," tutur Budi Karya.

Namun menurutnya, pihaknya telah membuat sebuah skema sehingga peningkatan tidak mencapai Rp 31 triliun.

"Tapi saya dengar sudah ada suatu value enginering sehingga harganya lebih kompetitif.  Ini pilihan. Pasti tidak Rp 31 triliun.  Itu kan pilihan saja," kata Budi Karya.

Baca: Pertamina Minta Pemerintah Naikkan Harga BBM

Skema pembiayaan LRT memang sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan finansial clossing proyek LRT akan dilakukan pada pertengahan Desember 2017.

"Kita (selesaikan) minggu ke dua. Tanggalnya lagi cocokan. Kita pengen detil, masih banyak peraturan yang harus dibuat. Ini kan belum pernah ada proyek seperti ini," ucap Luhut saat ditemui Selasa (21/11/2017).

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved