Menkeu Marah-marah di Kemenhub, Ini Alasannya

Sri meminta, Kementerian Perhubungan memperbaiki masalah tersebut. "Kasihan, uang-uang itu dihimpun dari pajak masyarakat"

Menkeu Marah-marah di Kemenhub, Ini Alasannya
TRIBUNNEWS/APFIA
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (1/2/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani marah-marah di Kementerian Perhubungan. Kemarahan Menkeu terkait buruknya pengelolaan anggaran di kementerian tersebut.

Data Kementerian Keuangan, anggaran Kementerian Perhubungan selama delapan tahun terakhir naik berlipat-lipat. Tahun 2010, misalnya, anggaran Kemenhub hanya Rp 17 triliun. Sementara itu, tahun 2015 anggarannya pernah meningkat hingga Rp 65 triliun dan 2018 menjadi Rp 48,2 triliun. Tapi, anggaran tersebut tidak pernah terserap maksimal.

"Tidak pernah sampai lebih dari 90%, tahun 2015 bahkan diberi Rp 65 triliun hanya mampu dibelanjakan Rp 47 triliun," katanya, Kamis (1/2) dalam Rapat Koordinasi Penyusunan Pagu Kebutuhan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Perhubungan Tahun 2019.

Cerminan penyerapan anggaran tersebut menunjukkan, kemampuan pengelolaan anggaran jajaran Kementerian Perhubungan masih buruk. Sri mengatakan, bukan hanya dari sisi penyerapan anggaran, alokasi anggaran juga masih buruk. Masalah tersebut tercermin dari peningkatan belanja barang di Kementerian Perhubungan.

Berdasarkan data Kemenkeu, dalam lima tahun terakhir, pada periode 2010-2015 belanja barang Kementerian Perhubungan naik dari Rp 3 triliun menjadi Rp 15 triliun, dengan kenaikan besar terjadi pada 2014 ke 2015 sebesar Rp 5 triliun.

"Bagaimana bisa, ini gedungnya sama, bayar listriknya sama tapi naiknya Rp 5 triliun. Pasti habisnya di perjalanan dinas," katanya.

Sri meminta, Kementerian Perhubungan memperbaiki masalah tersebut. "Kasihan, uang-uang itu dihimpun dari pajak masyarakat," katanya.

Berita Ini Sudah Dipublikasikan di KONTAN, dengan judul: Sri Mulyani marah-marah di Kementerian Perhubungan, apa sebabnya?

Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved