Impor Minyak Diperkirakan Akan Tetap Tinggi

"Ada kebutuhan impor langsung dari BBM. Kami butuh impor sekitar 600.000 barel setiap hari," kata Arcandra, Selasa (21/8/2018).

Impor Minyak Diperkirakan Akan Tetap Tinggi
Apfia Tioconny Billy/Tribunnews.com
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. 

Laporan Reporter Kontan, Febrina Ratna Iskana

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan, meski PT Pertamina akan membeli minyak mentah dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), volume impor masih akan tetap tinggi.

Wakil Menteri ESDM (ESDM) Arcandra Tahar mengakui, instruksi pemerintah agar Pertamina membeli minyak milik kontraktor migas tidak bisa langsung memenuhi permintaan untuk BBM dalam negeri.

Sebab, jatah minyak mentah milik pemerintah dan produksi minyak mentah Pertamina jika ditotal 500.000 barel per hari (bph). Sedangkan kapasitas produksi kilang Pertamina 850.000 bph.

Kekurangan kebutuhan minyak mentah untuk kilang sebesar 350.000 bph diperoleh dari impor.

Impor minyak mentah inilah yang berupaya dikurangi. Namun belum diketahui besaran pembelian dari KKKS tersebut.

Sementara kebutuhan BBM masyarakat Indonesia per hari mencapai 1,3 juta bph. Maka itu, Pertamina masih mengimpor BBM meski minyak mentah jatah KKKS telah dibeli oleh Pertamina. 

Baca: Australia Larang Huawei Masuk ke Pasar 5G

"Ada kebutuhan impor langsung dari BBM. Kami butuh impor sekitar 600.000 barel setiap hari," kata Arcandra, Selasa (21/8/2018).

Meski impor tetap besar, dia meyakini kebijakan pemerintah menginstruksikan Pertamina membeli minyak mentah dari KKKS merupakan langkah yang tepat.

Selain bisa mengurangi impor, kebijakan tersebut membuat Pertamina berhemat. "Bisa hemat cost transport sekitar US$ 1 hingga US$ 2 per barel," ujar Arcandra.

Sementara itu, Juru Bicara SKK Migas Wisnu Prabawa Taher mengatakan soal penjualan minyak oleh KKKS sampai saat ini masih didiskusikan. "Sedang kami bahas dengan ESDM dan stakeholder lainnya," ujar dia.

Pengamat Energi dari Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menilai proses penjualan minyak KKS tidak semudah yang dibayangkan.

 
 

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved