Breaking News:

Kadin Indonesia Dukung Pertamina Garap Bisnis Petrokimia dari Hulu Sampai Hilir

Pernyataan itu disampaikan Wakil Komisi Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia, Achmad Widjaya, Jumat (21/12/2018).

PERTAMINA
Unit pengolahan minyak atau kilang Cilacap milik PT Pertamina (Persero) di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. 

 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) mendukung masuknya PT Pertamina (Persero) ke industri petrokimia. Bahkan, Kadin menuilai, Pertamina tepat jika menggarap bisnis petrokimia ini dari hulu sampai hilirnya.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Komisi Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia, Achmad Widjaja, Jumat (21/12/2018).

Achmad Widjaja menyatakan, saat ini momentum tepat Pertamina masuk ke industri Petrokimia lantaran Indonesia sudah tertinggal di industri ini selama satu dekade (10 tahun) lamanya dari negara lain. "Paling tidak kita berharap dalam lima tahun ke depan kita akan lebih baik (di bidang industri petrokimia)," ungkap Achmad Widjaya seperti dikutip dari Antaranews, Selasa (25/12/2018).

Achmad Widjaja memaparkan, ketertinggalan Indonesia di industri petrokimia terjadi lantaran selama ini Indonesia masih mengandalkan bahan baku dari impor seperti bahan baku nafta.

Karenanya, keterlibatan perusahaan nasional di industri petrokimia, terutama di hilir harus dimulai dari sekarang agar Indoneasia tidak semakin terlambat masuk di industri ini.

Baca: Liriknya Disebut Jadi Kenyataan, Sederet Musikus Akui Kekuatan Magis Lagu Seventeen 'Kemarin'

Achmad Widjaja menambahkan, idealnya Pertamina tidak hanya berkonsentrasi menggarap sektor hulu petrokimia, tapi juga di bagian hilirnya. Bisnis ini menurutnya, membutuhkan investasi sangat besar dan bersifat jangka panjang dengan potensi keuntungan yang didapat juga bersifat jangka panjang.

Baca: Perjuangan Hidup-Mati Willy Siska Selamatkan 2 Anak di Papan Kayu Saat Tsunami Menerjang Anyer

Karena itu, pemain yang bisa masuk ke industri ini adalah yang memiliki dukungan modal besar. "Korporasi yang (modalnya) tanggung tidak mungkin masuk ke bisnis seperti itu. Kita harus kaji lebih dalam lagi agar bisa masuk, dan pintu-pintu Pertamina harus dibuka," tegasnya.

Achmad Widjaya menegaskan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 265 juta jiwa, kebutuhan petrokimia menjadi sangat tinggi. Sementara, perusahaan yang bermain di industri petrokimia masih sedikit. Diantaranya, PT Trans Pacific Petrochemical Indotama di Tuban dan grup Chandra Asri.

Baca: Dituding Tak Berempati atas Duka Ifan Seventeen, Ariel Noah Heran dan Buat Pengakuan Ini

Pertamina sendiri saat ini memang diketahui sedang merintis bisnis petrokimia dengan memanfaatkan tiga kilangnya yang berlokasi di Dumai, Plaju dan Cilacap untuk memproduksi bahan baku petrokimia, polypropylene. Polypropylene merupakan bahan baku untuk memproduksi bijih plastik.

Pertamina baru saja meresmikan Operator Training Simulator (OTS) Polypropylene di Pertamina RU III sebagai upaya BUMN ini mempercepat keahlian dan kompetensi sumber daya manusia (SDM)-nya di industri petrokimia sekaligus improvement process sebelum proses aplikasi di kilang petrokimia.

Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved