Grab Luncurkan Teknologi Deteksi dan Pencegahan Kecurangan untuk Mitra

Berdasarkan riset dari pihak ketiga, bisnis e-Commerce di Asia Tenggara rata-rata kehilangan sekira 1,6 persen dari pendapatan akibat kecurangan

Grab Luncurkan Teknologi Deteksi dan Pencegahan Kecurangan untuk Mitra
Tribunnews.com/Reynas Abdila
Grab Indonesia mengumumkan peluncuran teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk mitra Grab melalui serangkaian perangkat Grab Defence di Jakarta, Rabu (13/3/2019) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM - Grab Indonesia mengumumkan peluncuran teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk mitra Grab melalui serangkaian perangkat Grab Defence di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Para mitra strategis dapat memanfaatkan kemampuan data Grab yang telah teruji dalam mengurangi tindak kecurangan untuk memperkuat ekosistem teknologi dan arus transaksi.

Baca: Grab Beri Diskon Hingga 70 Persen di Banyak Layanan hingga 14 Maret 2019, Lihat Syaratnya

Berdasarkan riset dari pihak ketiga, bisnis e-Commerce di Asia Tenggara rata-rata kehilangan sekitar 1,6 persen dari pendapatan mereka akibat tindak kecurangan. 

Transaksi palsu dan manipulasi yang dilakukan para pelaku kejahatan terjadi di berbagai platform baik itu e-commerce, ride-hailing atau pemesanan perjalanan; yang tentunya akan memberi pengaruh negatif pada ekonomi digital, karena akan menghancurkan kepercayaan antara para pengguna, penyedia layanan, dan platform. 

Selama beberapa tahun belakangan ini, Grab telah berinvestasi besar untuk pengembangan sistem yang lebih kuat berkat dukungan machine learning serta kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi dan mencegah kecurangan pada platform Grab.  

Hasilnya, penelitian independen oleh Spire Research and Consulting menemukan bahwa tingkat penipuan pada layanan pemesanan transportasi Grab hanya sebesar 1/6 dibanding pesaing utamanya.

Rangkaian perangkat Grab Defence akan menjadi bagian dari strategi GrabPlatform, sebuah platform terbuka milik Grab dan serangkaian API (application programming interface) untuk membantu mitra mengintegrasikan layanan mereka dengan Grab. 

Head of User Trust at Grab, Wui Ngiap Foo mengatakan setiap hari machine learning menganalisis jutaan data secara real-time untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang telah ada maupun yang baru. 

“Tindak kecurangan akan terus berevolusi, karenannya membangun algoritma yang juga dapat berevolusi dan mempelajari polanya sehingga kita bisa selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan. Kecurangan tidak hanya terjadi di industri ride-hailing, tapi sudah menjadi masalah besar bagi pemain ekonomi digital secara keseluruhan,” katanya.

Ridzki Kramadibrata, President of Grab Indonesia melihat bagaimana sindikat kejahatan mendapatkan keuntungan secara ilegal dengan menggunakan aplikasi GPS palsu, atau aplikasi yang telah dimodifikasi serta metode lainnya untuk mencuri insentif hasil kerja keras mitra pengemudi dan menciptakan pengalaman buruk bagi pengguna di platform Grab. 

Baca: Promo Hokben via GrabFood, Dapatkan Diskon 50 Persen hingga 10 Maret 2019

“Kami telah meluncurkan kampanye Grab Lawan Opik! tahun lalu di Indonesia untuk memerangi order fiktif dan mencanangkan Grab FairPlay yang mendorong mitra pengemudi kami untuk melaporkan tindak kecurangan yang terjadi dalam ekosistem Grab. Kami juga bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap puluhan orang yang terbukti melakukan kecurangan di platform kami," katanya.

Layanan Grab Defence terdiri dari tiga fitur utama dan masing-masing fitur dapat berfungsi secara terpisah di antaranya event risk management suite, entity intelligence service, dan device network intelligence service.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved