Perekonomian Global Melambat, BI Dorong Permintaan Domestik

Bank Indonesia (BI) fokus mendorong permintaan domestik guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Perekonomian Global Melambat, BI Dorong Permintaan Domestik
Tribunnews.com/Ria Anatasia
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) IGP Wira Kusuma dalam pelatihan wartawan BI di Hotel Marriott Yogyakarta, Sabtu (23/3/2019). TRIBUNNEWS.COM/RIA ANATASIA 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Bank Indonesia (BI) fokus mendorong permintaan domestik guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pasalnya, perekonomian global diprediksi melambat, sehingga menimbulkan potensi terhambatnya kinerja ekspor.

"BI lakukan langkah kebijakan akomodatif, untuk dorong permintaan domestik," ujar Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, IGP Wira Kusuma saat pelatihan wartawan ekonomi dan moneter di Yogyakarta, Sabtu (23/3/2019).

Menurut IGP Wira Kusuma, untuk menjaga perekonomian Indonesia, BI akan fokus memperkuat stabilitas eksternal untuk mendorong permintaan domestik.

Beberapa upaya memperkuat stabilitas eksternal adalah dengan cara mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7 Day Reverse Repo Rate/7DRRR) di level enam persen, suku bunga Deposit Facility di level 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

"Permintaan domestik menjadi fokus untuk pertumbuhan ekonomi, jadi berdasarkan hal tersebut kebijakan yang disampaikan, perkuat stabilitas eksternal yang jadi prioritas BI dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Selain itu, perlambatan ekonomi global diprediksi akan membuat bank-bank di negara maju menerapkan kebijakan yang lebih dovish atau longgar terkait penerapan suku bunga acuannya.

Sebagai contoh bank sentral AS The Fed dan bank sentral Eropa, ECB yang diproyeksi menahan suku bunga acuannya dan tidak seagresif tahun lalu.

"Kalau dilihat persepsi pasar, kenaikan FFR (Fed Fund Rate) pasar perkirakan sepanjang 2019 tidak ada kenaikan, itu dinamika. Kemudian di Eropa juga demikian, normalisasi kebijakan di ECB melambat," ujar dia.

Dengan kondisi tersebut, aliran modal asing berpotensi masuk lagi ke emerging markets, termasuk Indonesia.

Namun BI dan pemerintah perlu mewaspadai risiko yang ada, di mana perekonomian global belum terlalu kondusif, sehingga bisa berdampak pada perekonomian domestik.

"Tentu saja ada risiko sektor eksternal, perkembangan eksternal belum kondusif berdampak ke perekonomian domestik, disebabkan CAD (defisit transaksi berjalan) masih tinggi," kata IGP Wira Kusuma.

Penulis: Ria anatasia
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved