Dukung Tol Laut di Wilayah Timur, Pushidrosal Lakukan Survei Hidro-oseanografi di Pelabuhan Namlea

Pelabuhan Namlea merupakan lokasi transportasi utama di Kabupaten Buru untuk berhubungan dengan pulau-pulau sekitar

Dukung Tol Laut di Wilayah Timur, Pushidrosal Lakukan Survei Hidro-oseanografi di Pelabuhan Namlea
Dok Pushidrosal
Pelabuhan Namlea, Maluku 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) melakukan survei dan pemetaan hidro-oseanografi untuk memutakhirkan data alur di Pelabuhan Namlea, Maluku.

Kapushidrosal Laskda TNI Harjo Susmoro mengatakan survei ini dilaksanakan guna mendukung tol laut dan konektivitas antar pulau di wilayah timur Indonesia khususnya di perairan Namlea, dengan menjamin keselamatan navigasi dan keamanan pelayaran di perairan tersebut.

Hal itu, kata dia, mengingat Pelabuhan Namlea merupakan lokasi transportasi utama di Kabupaten Buru untuk berhubungan dengan pulau-pulau sekitar termasuk dengan kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku.

"Pelabuhan Namlea terpetakan dalam Peta Laut Indonesia (PLI) Nomor 397 berdasarkan sumber data survei pada perairan Namlea terakhir, yang dilaksanakan pada tahun 1985, sehingga memerlukan pemutakhiran data survei Hidro-oseanografi," ujar Harjo, dalam keterangan tertulis, Selasa (26/3/2019).

Baca: Kemenhub Minta Pemda Proaktif dalam Optimalisasi Angkutan Perintis dan Tol Laut

Ia pun menjelaskan bahwa Pushidrosal selama 50 hari akan menggelar Operasi 'Kerta Wardana 03-2019' dibawah pimpinan Komandan Unit Survei-7 Satsurvei Hidros Mayor Laut (P) A. Agus Sutomo dengan jumlah personil sebanyak 15 orang.

Dalam beberapa hari ke depan, Harjo menyebut mereka akan segera menuntaskan tugasnya melakukan up date data hidrografi, oseanigrafi , geografi maritim serta sarana bantu pelayaran di perairan tersebut.

Operasi 'Kerta Wardana 03-2019' sendiri meliputi akuisisi, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data Hidro-oseanografi di perairan Namlea, Pulau Buru Maluku.

"Pada saat survei, Tim Survei Kerta Wardana 03-2019 mendapatkan dua Pulau yang ada di PLI nomor 397 skala 1 : 200.000 yaitu Pulau Batu Tanah Roboh dan Pulau Baju, sudah tidak ada (hilang, - red). Hilangnya kedua pulau ini tentunya akan mengurangi jumlah Pulau yang ada di perairan Indonesia atau yang sudah dipetakan," kata dia.

Lebih lanjut, Harjo menegaskan jika survei dan pemetaan yang dilakukan Pushidrosal ini juga dapat dipergunakan sebagai kajian penataan ruang laut dan pemetaan sumber daya alam yang ada.

"Khususnya bagi Pemda setempat serta penelitian bagi peneliti maupun akademisi Perguruan Tinggi," tukasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved