Gubernur BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Acuan

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ada dua faktor utama yang menjadi pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan

Gubernur BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Acuan
Dokumentasi Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis, dalam lima tahun ke depan, pangsa pasar keuangan syariah Indonesia akan meningkat dari saat ini tumbuh di level 8,4 persen menjadi 20 persen. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) Juni 2019 tetap mempertahankan suku bunga BI - 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) pada level 6%.

Meski demikian, BI memberi sinyal terbuka untuk penurunan suku bunga dan saat ini tinggal menunggu waktu yang tepat.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, ada dua faktor utama yang menjadi pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan, yaitu kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal Indonesia.

Menurut Perry, kondisi pasar keuangan global, masih diselimuti sentimen eskalasi ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, maupun negara lainnya.

Di samping dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, tensi ketegangan hubungan dagang yang makin tinggi memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.

“Ini yang kemudian mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang ke negara maju (flight to quality). Perkembangan ekonomi dunia ini memberikan tantangan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (20/6).

Risiko pasar keuangan global yang hilang timbul akibat perang dagang (risk on, risk off) ini berdampak pada aliran masuk modal asing ke negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.

Lantas, ini akan berpotensi memengaruhi kondisi neraca pembayaran Indonesia yang masih ditopang oleh transaksi modal dan finansial untuk membayar defisit neraca transaksi berjalan (CAD).

Kuartal I-2019, defisit transaksi berjalan sebesar US$ 7 miliar atau setara 2,6% terhadap PDB. Meski mulai menyempit dibandingkan kuartal sebelumnya, BI memproyeksi kondisi CAD akan kembali melebar pada kuartal II-2019 sejalan dengan faktor musiman yang menyebabkan kebutuhan devisa tinggi.

Oleh karena itu, BI tampaknya masih perlu memastikan arus modal asing dari sisi portofolio masuk dengan deras.

Halaman
12
Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved