Gara-Gara Repot Menyusui, Kini Stephanie Meraup Ratusan Juta Sebulan

Gara-gara pernah kerepotan menyusui di ruang kerja, Stephanie membikin usaha baju menyusui yang cocok dipakai di kantor. Omzetnya kini ratusan juta.

Gara-Gara Repot Menyusui, Kini Stephanie Meraup Ratusan Juta Sebulan
MANFAAT.CO.ID
Ilustrasi: Ibu menyusui. 

TRIBUNNEWS.COM - Ketika masih bekerja dengan status ibu muda baru punya bayi, Stephanie Tunggal pernah mengalami kerepotan saat harus memompa air susu ibu (ASI) di tempat kerja. Apalagi, kantornya tidak punya ruang khusus untuk memerah ASI.

Walhasil, perempuan kelahiran Bogor, 26 September 1985, ini terpaksa memompa ASI di ruangan untuk telepon. Yang menjadi masalah: pintu ruang itu tidak bisa dikunci. “Jadi, saya was-was banget selama pumping,” kata dia kepada Kontan.co.id.

Sejatinya, kerepotan Stephanie bisa sedikit berkurang dengan menggunakan pakaian khusus menyusui. Cuma masalahnya, ketika itu tidak mudah menemukan baju menyusui yang cocok buat dipakai untuk bekerja. Kalau pun ada, harganya terbilang mahal.

Berangkat dari kerepotan itu, muncul ide untuk membuat usaha baju menyusui. Tapi, dia baru merealisasikannya dua tahun kemudian. Ia mulai merintis bisnis itu dengan merek dagang Maternel di 2017.

Dalam tempo dua tahun, usaha Stephanie berkembang cukup pesat. Saat ini, saban bulan, produksinya berkisar 2.500 potong. Dengan harga jual mulai Rp 169.000 per potong, ia bisa mengantongi omzet sebesar Rp 350 juta sebulan.

Dan sebetulnya, keinginan menjadi pengusaha sudah muncul dalam benak Stephanie saat bekerja di Google Asia Pasifik di Singapura pada 2012 silam. “Saya menyadari, sebagai karyawan, sekalipun bekerja di Google, perusahaan nomor satu dunia, tetap ada keterbatasan,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, ini.

Tambah lagi, saat di Google, dia bekerja di bagian iklan usaha kecil dan menengah. “Saya seperti konsultan, ini yang membuat saya tahu dunia digital seperti apa. Jadi, sedikit banyak saya tahu bagaimana caranya dapat pelanggan di dunia digital,” imbuhnya.

Stephanie akhirnya mewujudkan keinginan menjadi pengusaha setelah tidak lulus masa percobaan tiga bulan saat bekerja di Tourism New Zealand pada Mei 2017. Pemecatan ini membuat ia terguncang.

Halaman Selanjutnya

Penulis: Hasbi Maulana
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved