Ketua Missi Minta Pelaku ''Goreng Saham'' Ditindak Tegas

Maraknya fenomena 'goreng-menggoreng' saham di pasar modal Indonesia kian meresahkan banyak investor.

Ketua Missi Minta Pelaku ''Goreng Saham'' Ditindak Tegas
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Foto ilustrasi. 

TRIBUNNEWS.COM - Maraknya fenomena 'goreng-menggoreng' saham di pasar modal Indonesia kian meresahkan banyak investor. Selain merugikan investor, aksi meraih keuntungan dengan meningkatkan jumlah transaksi saham di pasar secara drastis itu dinilai akan menjadi faktor penghambat dari masuknya investor baru di pasar modal.

"Ini PR besar yang harus segera diselesaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai regulator. Selain lebih memperketat standar penentuan Unusual Market Activity (UMA), para regulator juga harus berani mengambil tindakan tegas untuk para pihak yang kedapatan menggoreng saham," ujar Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI), Sanusi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Sebagai informasi, baru-baru ini jajaran jajaran BEI kembali mengumumkan adanya UMA terhadap transaksi perdagangan saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE). Harga saham BLUE diketahui meningkat tajam mencapai 500%, dari harga Rp130 per unit menjadi Rp780 per unit. Melejitnya saham ini terjadi 1 hari berselang ketika perusahaan ini melakukan penawaran perdananya di Rabu (17/7).

Baca: Jelang Persija vs PSM Makassar, Persija Optimis dengan Catatan Apik yang Dimiliki di Piala Indonesia

Baca: Latancab 2019 Akan Jadi Ajang Uji Kemampuan Prajurit Yonarhanud 1/1/K Mengoperasikan Rudal Mistral

"Kita ini seperti tidak punya regulator. Begitu banyak saham yang digoreng, masa tidak ada satu pun yang ditindak. Padahal itu kan sudah manipulasi perdagangan," cetusnya.

Berangkat dari fenomena tersebut, Sanusi pun mendesak jajaran BEI dan OJK Pasar Modal berani menindak tegas pihak-pihak yang diduga melakukan aksi 'menggoreng' saham. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap investor dan memberi efek jera bagi pelaku.

"Karena kalau sudah seperti ini, jatuhnya ada transaksi yang tidak sehat dan akan merugikan investor yang kecil. Kalau ini dibiarkan, lama-lama kekuatan investor kecil akan habis," tutup Sanusi.

Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved