Nilai Strategis Biodiesel Sawit, dari Ekonomi, Mengurangi Gas Rumah Kaca, hingga Pertahanan Negara

Setelah penerapan B20 berhasil dan tak ada masalah, sekarang Indonesia sudah mulai uji coba B30.

Nilai Strategis Biodiesel Sawit, dari Ekonomi, Mengurangi Gas Rumah Kaca, hingga Pertahanan Negara
ist
Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Diam-diam pengembangan energi terbarukan di Indonesia, terutama energi yang berbasis minyak nabati dari kelapa sawit, sangat maju melampaui negara-negara lain.

Uji coba penerapan campuran biodiesel sawit (FAME)) ke minyak solar berbasis fosil terus dilakukan. Selama ini pencampuran biodiesel sawit ke minyak solar berbasis fosil sebanyak 20% atau tren disebut B20 dianggap telah berhasil.

Setelah penerapan B20 berhasil dan tak ada masalah, sekarang Indonesia sudah mulai uji coba B30. Bahkan kabarnya ada intitusi pemerintah yang sudah melakukan percobaan B100 untuk beberapa kendaraan operasional. Sementara negara-negara tetangga, seperti Malaysia, saat ini masih pakai B10.

"Untuk Malaysia baru akan menerapkan B20 tahun 2020 nanti," ungkap Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan.

Menurut keterangan Paulus Tjakrawan, produksi biodiesel sawit sepanjang tahun 2018 mencapai 6,167 juta Kl. Semua terserap dengan baik. Tercatat sebayak 3,750 Juta Kl  untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 1,785 juta Kl untuk Ekspor.

"Ada kabar menggebirakan, pengembangan biofuel ini selain telah mengurangi terlepasnya gas emisi, juga mengurangi penggunaan devisa untuk impor bahan bakar. Sebab devisa kita banyak tersedot untuk impor bahan bakar minyak," jelasnya.

Dijelaskannya, biodiesel sawit menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca yang lebih kecil dari penggunaan solar, dan mengurangi polusi. Pada sepanjang 2018 lalu, kata Paulus, Biodiesel sawit Indonesia telah berhasil mengurangi emisi dari minyak solar sebesar 27% atau setara dengan ~10,58 Juta Ton CO2 Equivalent.

“Biodiesel sawit terbukti lebih ramah lingkungan dan bisa mendukung pemerintah hemat devisa," kata Paulus saat memberi pembekalan wartawan di Jakarta.

Indonesia sendiri telah bekomitmen menetapkan target pengurangan emisi dalam Nationally Determined Contributions UNFCCC sebanyak 26% di tahun 2020 dan sekitar 29% pada tahun 2030.

"Tapi target pengurangan emisi yang ditetapkan pada 2020 telah hampir dilupakan, padahal waktunya tinggal sebentar lagi. Sekarang para pemegang kebijakan lebih memerhatikan komitmen pengurangan emisi di tahun 2030, mungkin karena waktunya masih cukup panjang, sehingga bisa berpikir, ah, masih panjang, belum urgent", selorohnya.

Ditegaskan, komitmen pengurangan emisi tersebut bakal berpengaruh terhadap pengembangan serapan biodiesel sawit. Dengan adanya penetapan pengurangan emisi, penyerapan biodiesel akan berjalan dengan cepat.

Paulus mengungkapkan, semenjak pertegahan Juni 2019 lalu, road test campuran biodiesel sawit ke minyak solar berbasis fosil sebanyak 30% (B30) telah dilakukan. Bahkan kabarnya saat ini akan dilakukan uji dingin, dimana campuran biodiesel itu akan dilakukan uji layak di saat kondisi dingin. Pengujian itu akan dilakukan di daerah Dieng, Jawa Tengah.

"Banyak nilai strategis dari pengembangan biodiesel sawit ini. Tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga pertahanan negara. Kalau kita tergantung terus sama bahan bakar impor, kita ada masalah dengan Singapura atau Malaysia, terus jalur impor Selat Malaka ditutup, sudah pertahanan negara lumpuh.  Sawit ini anugrah bagi Indonesia," ungkapnya.

Saat ini pemakaian bahan bakar di Indonesia sekitar 1,4 Juta Barel perhari, sedangkan Indonesia menghasilkan hanya 778 ribu barel perhari, kekuranganya impor.

Sementara catatan dari Aprobi, pada tahun 2018, serapan Biodiesel sawit untuk domestik sebesar 3,75 Juta Kl atau setara dengan ~ 23,58 Juta Barel. (ugi)

Penulis: Sugiyarto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved