Investasi di Bidang Riset Masih Minim, APBN Alokasikan Anggaran Rp 35,7 Triliun

Pemerintah mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk riset di Indonesia sebesar Rp 35,7 triliun.

Investasi di Bidang Riset Masih Minim, APBN Alokasikan Anggaran Rp 35,7 Triliun
TRIBUNNEWS/REYNAS
Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani dalam Forum Mencari Model Pengelolaan Dana & Pengorganisasian Riset untuk Indonesia di Jakarta, Rabu (31/7/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia dinilai masih tertinggal dari negara tetangga dalam hal investasi di bidang riset.

Padahal investasi riset dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan efektivitas dari kebijakan publik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kontribusi masyarakat dan sektor swasta dalam bidang riset masih minim.

Pemerintah mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk riset di Indonesia sebesar Rp 35,7 triliun.

Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp33,8 triliun.

“Kita baru sekitar 66 persen dari total belanja penelitian di Indonesia, itu dari pemerintah. Sedangkan kalau peran swasta hanya sekitar 10 persen,” kata Menkeu dalam forum ekonomi di Jakarta, Rabu (31/7/2019).

Baca: Gara-gara Honda ADV 150, Yamaha Akan Percepat Jadwal Peluncuran New NMAX?

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Teguh Dartanto mengatakan, negara-negara yang tidak mengembangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologinya akan tertinggal.

Baca: Suzuki Ertiga Cross Siap Mengaspal di India, Seperti Ini Penampakannya

Menurutnya, pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi tak bisa instan, namun proses panjang dan berkesinambungan didukung sumber daya manusia dan finansial yang mencukupi.

“Dana abadi riset yang tertuang dalam APBN 2019 memberikan harapan baru bagi Indonesia supaya bisa berdiri sejajar dangan negara-negara lain dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Pendanaan penelitian yang mencukupi dan berkelanjutan, budaya akademik dan perangai ilmiah masyarakat merupakan syarat yang diperlukan bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelas Teguh.

Pada 2016 Indonesia menggunakan 0,25 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk riset.

Angka tersebut lebih rendah dari Vietnam (0,44 persen), Thailand (0,78 persen) dan Malaysia (1,3 persen) yang merupakan pesaing-pesaing utama Indonesia di bidang riset.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved