OJK: Gagal Bayar Duniatex Tak Ada Kaitannya dengan Masalah Industri Tekstil

Kasus gagal bayar anak usaha Grup Duniatex, PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) menjadi sorotan publik akhir-akhir ini.

OJK: Gagal Bayar Duniatex Tak Ada Kaitannya dengan Masalah Industri Tekstil
KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso di sela-sela acara Hari Ulang Tahun OJK, di halaman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Kamis (23/11/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus gagal bayar anak usaha Grup Duniatex, PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) menjadi sorotan publik akhir-akhir ini.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso meminta dunia usaha terlalu khawatir terjadap permasalahan keuangan pada perusahaan tekstil raksasa itu. Menurutnya, kasus tersebut tak ada kaitannya dengan permasalahan di industri tekstil secara keseluruhan.

"Duniatex itu spesifik, tidak ada kaitannya dengan masalah industri di mana mereka berkecimpung, dan permasalahannya ada pada missmatch likuditas sehingga dia gagal bayar," kata Wimboh di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Wimboh meminta bank-bank yang menyalurkan kredit untuk anak usaha Duniatex tersebut melalukan restrukturisasi kredit guna menghindari pembengkakan pada rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Baca: Gara-Gara Gagal Bayar Duniatex, OJK dan Bankir Awasi Potensi Kredit Macet di Semester II

"Kalau gak bisa bayar periode ini, kapan dia akan membayar. Dan ini sudah dibaca publik dan kata pemiliknya kita lakukan upaya-upaya restrukturisasi," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) mengalami gagal bayar bunga dan pokok dari pinjaman sindikasi senilai 11 juta dolar AS atau Rp154 miliar (kurs Rp. 14.000 per USD) yang jatuh tempo pada 10 Juli 2019.

Akibatnya, dua lembaga pemeringkat internasional, S&P dan Fitch menurunkan peringkat kredit obligasi dolar yang dijual oleh anak perusahaan Duniatex Group itu dari BB- menjadi CCC-(junk bond) dengan alasan tantangan likuiditas dari perusahaan.

Penulis: Ria anatasia
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved