Breaking News:

Rokhmin Dahuri Puji 4 Capaian Sektor Kelautan & Perikanan Pemerintahan Jokowi, Tapi dengan Catatan

Pencapaian yang menurutnya menonjol adalah munculnya efek jera terkait praktik illegal fishing oleh nelayan asing.

Editor: Choirul Arifin
HANDOUT
Guru besar Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB Profesor Rokhmin Dahuri acara seminar bertajuk 'Prospek Poros Maritim Dunia di Periode Kedua Jokowi' yang diselenggarakan The Habibie Center di Hotel Le Meridien Jakarta, Selasa (6/8/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar ekonomi maritim yang juga guru besar Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB Prof Rokhmin Dahuri mengapresiasi capaian kinerja kabinet Jokowi periode pertama di sektor kelautan dan perikanan.

Menurut Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman itu, pencapaian yang menonjol adalah munculnya efek jera terkait praktik illegal fishing oleh nelayan asing.

Kedua dwelling time arus bongkar muat barang di pelabuhan yang menurutnya kini menurun dari semula 8,5 hari menjadi 4 hari.

Ketiga logistic performance index yang dinilai membaik sehingga prosentase biaya logistik terhadap PDB menurun. 

Rokhmin Dahuri10
Guru besar Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB Profesor Rokhmin Dahuri

"Yang terakhir, program tol laut yang pada umumnya telah meningkatkan efisiensi angkutan penumpang
dan barang antar pulau, sehingga mengurangi disparitas harga barang antara jawa versus luar Jawa termasuk meningkatnya jumlah wisman dan devisa pariwisata," ujarnya.

Rokhmin Dahuri membeberkan hal ini saat tampil menjadi pembicara di acara seminar bertajuk 'Prospek Poros Maritim Dunia di Periode Kedua Jokowi' yang diselenggarakan The Habibie Center di Hotel Le Meridien Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Nelayan Masih Susah

Rokhmin menjelaskan, meski memiliki kinerja yang cukup moncer, dia tetap memberikan sejumlah catatan perbaikan.

Misalnya, dia menyoroti kontrubusi sektor kelautan dan perikanan yang selama 5 tahun ini dinilainya belum berkontribusi optimal terhadap pertambahan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

"Kinerja ekonomi kelautan masih jauh dari optimal bagi nelayan dan masyarakat kelautan lain, pertumbuhan ekonomi, kontribusi terhadap PDB, nilai ekspor, pemerataan pembangunan, dan penyediaan lapangan kerja)," ujar Rokhmin Dahuri yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur ini.

Bahkan, dia menilai, kehidupan nelayan dan pembudidaya (terutama marikultur dan perairan payau) semakin susah.

"Ada 14 pabrik surimi di Pantura mati suri, sentra industri pengolahan perikanan (Belawan, Muara Baru, Cilacap, Benoa, Bitung, Ambon, Kaimana, dan Sorong) mati suri akibat kekurangan bahan baku," ujar Rokhmin Dahuri yang disampaikan lewat makalahnya berjudul 'Strategi Pembangunan Ekonomi Kelautan untuk Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia'. 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved