Terdesak Baja Impor Kualitas Rendah, IZASI Berharap Dukungan Pemerintah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan impor BJLAS terlihat sejak tahun 2013 dan naik signifikan pada tahun 2017 dan 2018.

Terdesak Baja Impor Kualitas Rendah, IZASI Berharap Dukungan Pemerintah
Warta Kota/Dwi Rizki
Jajaran Indonesia Zinc Aluminium Steel Industries (IZASI) usai diskusi bertajuk 'Kehancuran Industri BJLAS Indonesia Akibat Serangan Impor Produk Non-Standar' di Hotel Ibis Style, Cilandak, Jakarta Selatan pada Kamis (4/9/2019) petang. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tekanan impor beragam produk asal Cina, termasuk komoditas barang setengah jadi, seperti Baja Lapis Aluminium Seng (BJLAS) kian dirasakan pengusaha lokal.

Bisnis baja flat itu kini kian terpuruk dengan sejumlah regulasi yang dinilai tidak memihak pengusaha lokal.

Keluhan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Zinc Aluminium Steel Industries (IZASI), Maharany Putri dalam diskusi bertajuk 'Kehancuran Industri BJLAS Indonesia Akibat Serangan Impor Produk Non-Standar' di Hotel Ibis Style, Cilandak, Jakarta Selatan pada Kamis (4/9/2019) petang.

Dalam paparannya, tingkat pertumbuhan konsumsi baja di Indonesia menempati peringkat pertama dari Negara ASEAN sejak tahun 2017 dan mengalami pertumbuhan sebesar 6,6 persen pada 2018.

Baca: Formappi Sebut Anggota DPR yang Belum Laporkan LHKPN Calon Koruptor

Baca: Dihina Lucinta Luna dengan Sebutan Cebol dan Panjat Sosial, Dinar Candy Kasih Nasihat

Baca: 5 Kebiasaan Sehari-hari Ini Ternyata Bahayakan Kesehatanmu, Kebanyakan Tidur hingga Makan Cepat

Namun, disayangkannya, peningkatan permintaan sektor konstruksi tersebut justru diiringi dengan peningkatan impor baja dari Cina dan Vietnam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), peningkatan impor BJLAS terlihat sejak tahun 2013 dan naik signifikan pada tahun 2017 dan 2018.

Pemicunya ditenggarai karena harga BJLAS impor lebih murah sebesar 40 persen di bawah harga BJLAS lokal.

Rendahnya harga jual baja impor dimungkinkan karena banyaknya subsidi pemerintah dari negara pengekspor, pengalihan kode tarif barang yang berimbas kepada perbedaan bea masuk, tersedia dan dapat diaksesnya fasilitas perjanjian dagang bilateral atau multilateral.

"Peningkatan kapasitas produksi nasional dengan melalui ekspansi investasi maupun investasi baru pun akhirnya percuma jika permintaan tersebut lari ke impor."

"Padahal industri baja lokal memiliki kemampuan memenuhi volume dan standar kualitas yang dibutuhkan," katanya.

Sementara itu, kapasitas produksi baja lapis konstruksi, khususnya BJLAS dipaparkan Ketua Umum IZASI, Yan Xu mencapai 1,1 juta ton per tahun, sejalan dengan jumlah permintaan yang mencapai sebesar 1 juta ton pada tahun 2018.

"Seharusnya permintaan ini dapat dipenuhi industri lokal yang malah over supply. Impor karbon BJLAS dan Paduan BJLAS ini dirajai 90 persen impor oleh China dan Vietnam yang diketahui mengalami kenaikan dua kali lipat di 2016-2018 dan memenuhi demand (permintaan) nasional sebesar 57 persen, sebaliknya jatah industri lokal hanya 37 persen," sesalnya.

Seiring dengan keterpurukan industri baja, Indonesia kembali mengalami defisit dengan menurunnya Neraca Perdagangan sebesar USD 1,93 miliar di semester pertama tahun 2019. Ketika itu, besaran nilai impor mencapai USD 82,26 miliar melebihi ekspor yang hanya sebesar USD 80,32 miliar.

"Dengan keadaan yang merupakan signifikan unfair business (bisnis tidak adil) ini telah menggerakkan IZASI dan didukung oleh KADI dalam menginisiasi Anti Dumping BJLAS. IZASI sangat mengharapkan dukungan pemerintah melalui kerjasama intensif dan kolaboratifantar departemen terkait untuk bisa mengkaji ulang aturan-aturan mulai dari standardisasi industri, pasar, tertib tata niaga, penyerapan produk industri dalam negeri serta tenaga kerja lokal hingga investasi," ungkap Yan Xu.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Pengusaha Lokal dan Industri Baja Kian Terpuruk sebagai Dampak Terdesak Baja Impor Kualitas Rendah 

Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved