Survei: Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara Tahun Ini Melemah, Jadi 4,5 Persen

Singapura diperkirakan akan mengalami resesi teknis manufaktur pada kuartal ke tiga (Q3) 2019.

Survei: Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara Tahun Ini Melemah, Jadi 4,5 Persen
Tribun Jateng /Hermawan Handaka
Truk kontainer pengangkut peti kemas melintas di dermaga Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin (15/7/2019) sore. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Laporan terbaru Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara berpotensi melambat menjadi sebesar 4,5 persen.

Sian Fenner, ICAEW Economic Advisor and Oxford Economics Lead Asia Economist, mengatakan pelemahan itu diakibatkan tantangan global dan ketidakpastian perdagangan AS-China.

“Kami perkirakan akan terjadi kemerosotan prospek ekonomi lebih lebih lanjut di seluruh wilayah Asia Tenggara, terutama bagi negara dengan ekonomi yang lebih bergantung pada perdagangan dan tetap stabil pada angka yang sama hingga 2020,” ujar Sian dalam keterangan pers tertulisnya, Rabu (25/9/2019).

Permintaan domestik diperkirakan meningkat akibat dari kebijakan penurunan suku bunga pinjaman.

Baca: Penumpang Lion Air Ngamuk karena Penerbangan Delay Akibat Kabut Asap

“Menghadapi tantangan eksternal yang kian tajam, dengan lebih rendahnya suku bunga dan lemahnya tekanan inflasi, bank sentral di seluruh wilayah Asia Tenggara diharapkan dapat menurunkan kebijakan suku bunga guna mendukung permintaan domestik,” paparnya.

Baca: Rumah Mewah Nia Ramadhani Halamannya Seluas Lapangan Bola, Ada Perosotan di Kamar Anak

Kebijakan fiskal pun harus lebih kondusif di tengah investasi infrastruktur yang lebih tinggi.

Setelah menurunkan suku bunga sebanyak 50 basis poin (bp) tahun ini, Bank Sentral Indonesia dan Filipina diperkirakan akan menurunkan suku bunga sekali lagi pada kuartal keempat (Q4) tahun 2019.

Begitu pula dengan Thailand dan Malaysia yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bp) pada awal tahun 2020.

Singapura diperkirakan akan mengalami resesi teknis manufaktur pada kuartal ke tiga (Q3) 2019.

Vietnam diperkirakan akan terus unggul di antara negara lainnya, walaupun mengalami penurunan pada pertumbuhan PDB menjadi 6,7 persen pada tahun 2019, diikuti deselerasi selanjutnya menjadi 6,3 persen pada tahun 2020.

Baca: Warganet Tertawa, Iwan Fals Mencuit Minta Link di Viral Video Panas PNS Jabar

Jika AS menerapkan tarif impor lebih tinggi pada Vietnam, pertumbuhan PDB negara tersebut diperkirakan akan menurun menjadi 5,9 persen pada tahun 2020-21 dibandingkan dengan batas bawah 6,2 persen.

Mark Billington, ICAEW Regional Director, Greater China and South-East Asia memperkirakan tantangan kondisi eksternal akan terus membebani pertumbuhan perekonomian secara umum di seluruh Asia Tenggara, sama halnya dengan perputaran perdagangan regional.

“Meskipun aktivitas domestik - didukung oleh berbagai kebijakan makro akomodatif - sepertinya akan menahan perdagangan yang melemah, pertumbuhan rendah akan tetap berpotensi di Indonesia, Filipina dan Thailand, dengan Singapura mengalami dampak terberat," ujar Mark.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved