Super Hub Tanjung Priok Bakal Pangkas Biaya Logistik Rp 765 Triliun

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara direncanakan menjadi super hub atau pelabuhan pengumpul sektor logistik ekspor-impor.

Super Hub Tanjung Priok Bakal Pangkas Biaya Logistik Rp 765 Triliun
Tribunnews/JEPRIMA
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Indonesia, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (7/3/2018). Kegiatan penimbangan peti kemas ekspor di pelabuhan atau verifikasi berat kotor kontainer ekspor/verified gross mass (VGM) di Pelabuhan Tanjung Priok bakal melibatkan PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai penerbit dokumen sertifikasi VGM. Saat ini, di Pelabuhan Tanjung Priok terdapat lima pengelola fasilitas terminal ekspor impor yakni JICT, TPK Koja, Terminal Mustika Alam Lestari (MAL), Terminal 3 Priok, dan New Priok Container Terminal-One (NPCT-1). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM - Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara direncanakan menjadi super hub atau pelabuhan pengumpul sektor logistik ekspor-impor.

Hal itu dikatakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam agenda Indonesia Transport Supply Chain & Logistics (ITSCL) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2019).

“Saat ini fokus yang sudah direct call di pelabuhan Tanjung Priok. Kita harus mendorong porsi direct call dengan harapan yang lain kemudian menyusul,” katanya.

Menteri Bambang menjelaskan optimalisasi pelabuhan direct call ini untuk menjawab isu kinerja negatif logistik nasional.

Ke depan, transhipment di pelabuhan Singapura ditekan hingga 70 persen dalam jangka panjang.

“Ini merupakan pondasi awal rencana penurunan defisit neraca jasa sebesar 10 persen.”

“Kemudian target lain menurunkan biaya logistik sebesar kurang lebih Rp 765 Triliun dalam lima tahun,” tegas Bambang.

Baca: Menhub Ingin Pelabuhan Tanjung Priok Jadi Hub Internasional

Tujuh pelabuhan yang juga terlibat dalam program port hub di antaranya Kuala Tanjung Sumatera Utara, Tanjung Perak Surabaya, Pontianak, Bitung (Sulawesi Utara), Pelabuhan Makassar, dan Pelabuhan Sorong di Papua.

Sementara Wakil Ketua Umum Kadin bidang Transportasi,Carmelita Hartoto optimis sektor transportasi dapat tumbuh didukung pemerintah serta stakeholder terkait.

"Harus tetap optimis karena kelanjutan pembangunan infrastruktur masih jadi prirotas lima tahun ke depan. Ini akan cukup mengerek sektor transportasi nasional," jelas dia.

Masalah beban biaya logistik yang dinilai masih tinggi yakni beban logistik 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Daya saing kinerja pasti menjadi tantangan namun melalui perbaikan kinerja logistik nasional kami meyakini biaya dapat lebih efisien," ucapnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved