Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Bisa Tumbuh Stabil Tahun Depan

Asumsi ini didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal yang cenderung pro-growth, terlebih dengan backdrop suku bunga global yang semakin menurun

Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Bisa Tumbuh Stabil Tahun Depan
Tribunnews/JEPRIMA
Deretan gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/2/2019). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17 persen sepanjang 2018.(Tribunnews/Jeprima) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ekonomi Indonesia dinilai masih bisa tumbuh stabil tahun depan di tengah tantangan ekonomi global.

Daya tahan ekonomi, yang ditopang oleh konsumsi masyarakat, serta efek kebijakan makro seperti penurunan suku bunga dan reformasi struktural yang mendorong investasi bisa menopang pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital yang diperkirakan akan naik pesat hingga US$100 miliar pada 2025 turut berpengaruh pada prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Prediksi tersebut disampaikan oleh para pakar ekonomi dalam forum talkshow Kafe BCA dengan tema Economy Outlook 2020.

Forum Kafe BCA dibuka oleh Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menghadirkan pembicara Ekonom BCA David Sumual, Direktur Riset CORE Indonesia Pieter Abdullah, serta Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Nathan Kacaribu di Breakout Area Menara BCA, Jakarta pada Jumat (18/10/2019).

Baca: Layanan Mobile Banking BCA Sempat Tak Bisa Diakses Pada Senin Pagi

David memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 bisa mencapai 5,0 – 5,2%, dengan risiko eksternal yang masih terjaga di mana neraca transaksi berjalan berada di level 2,0 – 2,5% dari PDB.

Asumsi ini didukung oleh kebijakan moneter dan fiskal yang cenderung pro-growth, terlebih dengan backdrop suku bunga global yang semakin menurun, meskipun risiko makro dari pembalikan arus modal masih perlu diwaspadai.

Selain asumsi makro tersebut, David menjabarkan beberapa katalis yang bisa mendorong ekonomi tahun depan, antara lain kelanjutan proyek infrastruktur dan rencana pemindahan ibukota yang akan mendorong kinerja sektor konstruksi dan properti.

David juga menekankan pentingnya reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing nasional dan menarik investasi di tengah disrupsi rantai produksi global.

Baca: Ponsel Black Market Bikin Negara Kehilangan Pendapatan Rp 55 Miliar/Hari

Penetrasi teknologi dan ponsel pintar telah memunculkan kekuatan baru ekonomi dalam negeri yang bertumpu pada digitalisasi.

Riset yang dirilis Google, Temasek, dan Bain menyatakan bahwa Indonesia berkontribusi US$40 miliar atau Rp567,49 triliun dari total nilai ekonomi digital di Asia Tenggara yang diproyeksikan menembus US$100 miliar pada 2019.

Nilai ekonomi berasal dari lima sektor ekonomi berbasis internet yaitu e-commerce, media daring, ride-hailing, wisata atau travel, dan layanan finansial. Pada 2025, ekonomi digital Indonesia bakal bertumbuh US$133 miliar.

Transformasi digital yang telah dilakukan BCA seperti internet banking BCA, mobile banking BCA, Flazz BCA, e-wallet Sakuku, hingga solusi perbankan terkini, melalui fitur antara lain VIRA BCA, Webchat BCA, OneKlik BCA, QRku, BCA Keyboard, Buka Rekening Online.

Dan terakhir WELMA merupakan kiat untuk memberikan preferensi layanan digital yang lebih nyaman dan aman kepada nasabah, khususnya milenial untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved