Garuda Indonesia Uji Coba Penggunaan Drone untuk Logistik Mulai 2020

Drone-drone tersebut akan digunakan untuk mendukung angkutan logistik yang menggunakan pesawat freighter.

Garuda Indonesia Uji Coba Penggunaan Drone untuk Logistik Mulai 2020
Ria Anatasia
VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan (kiri) dan Direktur Kargo dan Pengembangan Garuda Indonesia Muhammad Iqbal (kanan) usai diskusi bertajuk "Potensi dan Penerapan Drone sebagai Angkutan Logistik Udara Nasional" di Jakarta, Selasa (22/10/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Maskapai Garuda Indonesia akan melakukan uji coba penggunaan pesawat udara tanpa awak (unmaned aerial vehicle/UAV) atau drone sebagai pengangkut logistik mulai Januari 2020.

Direktur Kargo dan Pengembangan Garuda Indonesia Muhammad Iqbal mengatakan, untuk uji coba tahap awal, pihaknya akan menerbangkan sebanyak dua unit drone. Drone itu berasal dari Beihang University di Beijing, China bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) PTDI.

"Uji coba ini untuk aspek reabilitas, kesiapan regulasinya. Dilakukan di Aceh, Kalimantan Timur, Maluku, Sulawesi Utara, Papua itu uji coba selama tiga bulan," kata Iqbal dalam diskusi bertajuk "Potensi dan Penerapan Drone sebagai Angkutan Logistik Udara Nasional" di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Dia mengatakan, penggunaan drone untuk logistik ini guna menjawab kebutuhan pasar.
Menurutnya, pertumbuhan kargo udara Garuda mencapai 11 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penumpang sebesar 5 persen.

Dalam upacara dan parade HUT ke-74 TNI, pesawat tanpa awak (drone) tempur Rainbow CH-4 milik TNI Angkatan Udara ikut tampil.
Dalam upacara dan parade HUT ke-74 TNI, pesawat tanpa awak (drone) tempur Rainbow CH-4 milik TNI Angkatan Udara ikut tampil. (Dok/Wikipedia)

Drone-drone tersebut akan digunakan untuk mendukung angkutan logistik yang menggunakan pesawat freighter.

"Makanya perlu ada penambahan strateginya kalau jarak jauh pakai freighter tahun 2020 akan proyeksikan (penambahan) 8 unit. Pesawat freighter ini harus disupport feeder, salah satunya UAV ini," jelasnya.

Adapun investasi untuk satu unit drone, kata Iqbal sebesar 5 juta dolar AS. Dia menargetkan untuk mulai mengoperasikan 100 unit UAV dan 50 pesawat Vertical Take-Off and Landing (VTOL) mulai 2021.

"Ini semua bergantung pada Kemenhub, mudah-mudahan (uji coba) berlangsung baik, nanti ditetapkan kita siap untuk UAV. Tahun depan, start uji coba, kalau itu berhasil lanjut operasional," kata Iqbal.

Penulis: Ria anatasia
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved