BI: Perang Dagang AS-Tiongkok Jadi Penyebab Lesunya Ekonomi Indonesia

Rosmaya Hadi menilai perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok berdampak pada lesunya perekonomian Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Rosmaya Hadi menilai perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok berdampak pada lesunya perekonomian Indonesia.

Dalam acara workshop 'Accelerating Infrastructure Development', ia menyebut efek dampak perang dagang itu juga dirasakan negara lainnya di dunia dan mempengaruhi perekonomian masing-masing negara.

"Ini terjadi penurunan kinerja, karena jelas sekali dengan lemahnya kondisi ekspor dan kondisi geopolitik yang menyebabkan perekonomian berbagai negara terimbas," ujar Rosmaya, di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (6/11/2019).

Untuk kuartal III tahun ini, kata Rosmaya, kenaikan memang terjadi pada komoditas nikel namun itu pun pertumbuhannya hanya sedikit.

"Secara khusus, harga nikel agak meningkat, ini bukan karena adanya kebutuhan yang riil, saya rasa ini antisipasi larangan ekspor, jadi bukan cerminan permintaan yang riil, jadi kita harus waspadai ini," kata Rosmaya.

Selain perang dagang, lesunya industri manufaktur turut memberikan dampak pula pada melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Lemahnya kinerja manufaktur di tengah sejumlah transformasi yang dilakukan oleh pemerintah ini menjadi perhatian kita, karena dampaknya pasti kepada konsumsi yang jauh lebih terbatas," jelas Rosmaya.

Sementara itu, dalam acara 'Asia's Trade and Economic Priorities 2020' yang diselenggarakan pada 29 Oktober lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh 5,05 persen.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved