Menristek Bambang: Tax Deduction 300 Persen R&D di Indonesia untuk Rangsang Investasi dan Riset

Tax Deduction 300 persen untuk bidang riset dan pengembangan (R&D) dalam waktu dekat akan diputuskan.

Menristek Bambang: Tax Deduction 300 Persen R&D di Indonesia untuk Rangsang Investasi dan Riset
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Menteri Riset, Teknologi, dan Badan Riset Inovasi Nasional Kabinet Indonesia Maju, 2019 - 2024 (kiri) bersama Wakil Duta Besar Indonesia untuk Jepang Tri Purnajaya (kanan) 

"Yang penting semua pihak punya pemikiran sama, committed untuk kerja sama mengembangkan R&D di Indonesia sehingga kita nantinya bisa berada selevel dengan negara tetangga dalam bidang R&D menyongsong 2045 di mana Indonesia sudah harus lepas landas menjadi negara maju," katanya.

Riset, inovasi nantinya juga terkait intelectual property right dan patent, publikasi harus tinggi setidaknya di ASEAN.

Menristek Bambang Brodjonegoro di Jepang
Menteri Ristek bersama beberapa warga Indonesia yang bertanya dan mendapatkan kenang-kenangan dari pihak KBRI diserahkan oleh Menteri..

"Riset Indonesia sudah cukup banyak tetapi yang menjadi lisensi komersialisasi pada akhirnya masih kecil," ungkapnya.

Indonesia diharapkannya nanti bisa menyatukan kalangan usaha dengan para peneliti yang dijembatani pemerintah sehingga bisa maju, terealisasi dengan baik dalam praktiknya di masyarakat. Itulah yang dilakukan misalnya oleh Swedia.

"Dengan kekuatan R&D Indonesia, maka kita bisa akan menghasilkan produk sendiri. Apa yang saya lihat saat ini Made in Indonesia masih banyak yang sebenarnya hanya merangkai saja. Impor suku cadang lalu ditata dirangkai di Indonesia, lalu diberikan label Made in Indonesia."

Baca: Teknologi Jepang AI Tawarkan Belanja Online Indonesia Kerjasama Penilaian Komentar Cukup 2 Menit

Baca: Gerbong Hingga AC LRT Jabodebek Diuji BPPT

Baca: Suku Ainu Diakui Dengan UU Baru Jepang, Dapat Subsidi Sedikitnya 660 Juta Yen

Jarang industrialis ada di Indonesia saat ini.

"Kebanyakan pengusaha kita adalah pedagang. Mikir dikit saja malas. Boro-boro R&D," katanya.

Itulah sebabnya Menteri Bambang menegaskan kembali ingin menciptakan link riset penelitian invensi inovasi.

"Gapnya besar saat ini antara talenta penelitian dengan komersialisasi," kata Bambang.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved