AS Kini Tak Lagi Sebut China Manipulator Mata Uang

Kementerian Keuangan Amerika Serikat tidak akan menyebut lagi China sebagai manipulator uang.

AS Kini Tak Lagi Sebut China Manipulator Mata Uang
SPUTNIK NEWS
Ilustrasi - Mata uang Yuan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) Senin kemarin mengumumkan, pihaknya tidak akan menyebut lagi China sebagai manipulator uang.

Ini merupakan bagian dari laporan mata uang semi tahunan, keputusan tersebut muncul saat hubungan antara kedua negara itu bergerak ke arah peningkatan hubungan perdagangan dan menyegel perjanjian perdagangan fase satu pada hari Rabu lalu.

Seperti yang disampaikan Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin dalam rilis resmi departemennya pada Senin kemarin.

"Departemen Keuangan (AS) telah membantu mengamankan perjanjian Fase Satu yang signifikan dengan Tiongkok yang akan mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dan peluang bisnis bagi pekerja dan bisnis AS," kata Mnuchin.

Baca: China Impor Besar-besaran, Harga Tembaga Tembus Rekor Baru

"Tiongkok telah membuat komitmen yang dapat ditegakkan untuk menahan diri dari devaluasi kompetitif, sambil mempromosikan transparansi dan akuntabilitas,".

Dikutil dari laman Sputniknews, Selasa (14/1/2020), pengumuman ini menyusul pengiriman terkait 'Laporan Kebijakan Makroekonomi dan Valuta Asing AS dari Departemen Keuangan Amerika Serikat' yang meninjau praktik mata uang dari 20 mitra dagang utama AS.

Mnuchin sebelumnya menyebut Tiongkok sebagai 'manipulator mata uang' pada Agustus 2019, setelah negara tersebut dan Bank Rakyat Tiongkok diduga melanggar komitmen G20 Tiongkok untuk menahan diri dari devaluasi kompetitif dan memungkinkan Yuan turun ke level tujuh 'yuan per dolar' yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun saat ini tidak ada negara yang disebut sebagai 'manipulator mata uang' oleh Departemen Keuangan AS, namun departemen ini telah menempatkan total 10 mitra dagang dalam 'daftar pemantauan' meliputi Tiongkok, Jerman, Irlandia, Italia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Swiss dan Vietnam.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved