Breaking News:

Virus Corona

Perdagangan di Pasar Eropa Menukik Tajam, Dipicu Ketegangan AS-China Soal Corona

Hal ini dipicu sikap AS yang terus menyalahkan China sebagai penyebab mewabahnya virus corona (Covid-19) di dunia.

AFP/THOMAS SAMSON
Seorang paramedis membawa pasien dengan tandu dari ambulans ke ruang gawat darurat, didirikan tenda, di halaman Rumah Sakit Henri Mondor di Creteil, dekat Paris, Prancis pada Kamis (26 Maret 2020), Pada hari kesepuluh dari Lockdown yang bertujuan untuk membatasi penyebaran COVID-19 (novel coronavirus) di Prancis. (AFP/Thomas SAMSON) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) - China yang semakin meningkat, membuat pasar di Eropa kini mengikuti rekan-rekan Asia mereka, menderita kerugian tajam pada pembukaan perdagangan Senin kemarin.

Hal ini dipicu sikap AS yang terus menyalahkan China sebagai penyebab mewabahnya virus corona (Covid-19) di dunia.

Dikutip dari laman Russia Today, Selasa (5/5/2020), pasar saham di Jerman dan Prancis pun melesu pada perdagangan pertama bulan ini, karena dibuka setelah liburan Hari Buruh.

CAC 40 Prancis bahkan memimpin kerugian, penurunan terjadi hampir mencapai 4 persen, sementara DAX Jerman tidak jauh lebih tinggi karena kehilangan lebih dari tiga persen.

Baca: Mengenang Awal Perjalanan Karier Didi Kempot, dari Ngamen Sampai Bisa Keliling Eropa

Sedangkan pasar saham Inggris, yang merupakan salah satu dari sedikit perdagangan yang dibuka pada 1 Mei kemarin, memperpanjang kerugiannya sejak pekan lalu, karena turun lebih dari dua persen.

Perdagangan saham di Bursa Moskwa Rusia pun turut mengikuti tren negatif pada pembukaan Senin lalu.

Indeks MOEX utama turun lebih dari satu persen, sementara indeks dolar RTS kehilangan hampir tiga persen dengan saham perusahaan minyak mengalami pukulan terbesar.

Perselisihan antara AS dan China dianggap sebagai salah satu alasan utama di balik kerugian yang terjadi di pasar saham seluruh dunia.

Sejak akhir pekan lalu, AS memang telah menuding China berada dibalik pandemi ini.

Bahkan AS juga tengah mempertimbangkan rencana untuk membalas China dengan tarif hukuman terbarunya.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved