Breaking News:

Prediksi Faisal Basri, Rupiah Akan Melemah Lagi di Akhir Juni Pasca Puncak Covid-19

Sampai Desember 2019 kepemilikan asing di surat utang Pemerintah Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia mencapai 38,7 persen.

Ria Anatasia
Ekonom senior INDEF Faisal Basri dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Rabu (14/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom Senior Indef Faisal Basri menyatakan, surat utang pemerintah kini memiliki kupon atau tingkat bunga yang makin tinggi, yakni mencapai 7 persen hingga 8 persen.

Disisi lain, investor asing sedang mengalami kelebihan likuiditas karena adanya dana stimulus berupa quantitative easing.

"Sekarang mereka masuk ke Indonesia membeli surat-surat utang pemerintah itu, tapi bukan untuk tujuan jangka panjang," ujarnya saat teleconference di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Faisal menyatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, sampai Desember 2019 kepemilikan asing di surat utang Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia mencapai 38,7 persen.

Baca: Faisal Basri: Rupiah Menguat karena Utang Dolar Indonesia Meningkat

Beda halnya dengan Jepang, surat utang negara yang sebagian besar dalam bentuk mata uang yen dipegang oleh masyarakatmya sendiri.

"Nah kalau ada apa-apa, misalnya ini mudah-mudahan tidak terjadi ya, prediksi teman-teman Indef puncak Covid-19 ini dari segi kasus akan mengalami lonjakan pada 14 Juni. Bentar lagi, kemarin sudah mulai kasus baru diatas 1.000 orang," kata Faisal.

Baca: Faisal Basri Kritik Program PEN: Jangka Pendek dan Banyak Utang Negara Mengalir ke BUMN

Kemudian, nanti akibat kebijakan normal batu atau new normal yang dipaksakan itu maka akan muncul dampakmya pada bulan depan dari sisi korban positif Covid-19.

"Pada saat itulah asing mulai menjual bonds-nya lagi, nanti Bank Indonesia harus turun tangan keluar cadangan devisa. Karena itu, sungguh sangat rentan, jadi kalau kita cek global shock ini yang sekarang dibanding 2008 hingga 2009 itu tingkat kerentanan kita sekarang lebih buruk daripada yang lalu," tuturnya.

Baca: Menko Airlangga: Pak Gubernur BI, Rupiah Sudah Terlalu Kuat

Menurut Faisal, perekonomian Indonesia pada saat krisis 2008 masih bisa melenggang dengan pertumbuhan sebesar 4,6 persen tatkala dunia sudah mengalami resesi.

Sedangkan, sekarang ini kerentanan negara semakin parah karena dinilainya pemerintah tidak belajar dari krisis-krisis sebelumnya.

Dia menambahkan, sulit untuk membayangkan fundamental ekonomi membaik dan bisa menguatkan nilai tukar rupiah karena masih ada current account deficit atau defisit transaksi berjalan.

"Jadi, kalau kita yakin rupiah akan menguat secara berkelanjutan tatkala current account Januari sampai Maret masih defisit. Kalau defisit bisa ditutupi sepenuhnya oleh capital inflow, rupiah akan cenderung tidak menurun atau bisa menguat sedikit, tapi kalau capital inflow-nya keluar lagi menjadi outflow maka rupiah akan merosot kembali," pungkas Faisal.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved