Breaking News:

Pencemaran Udara Dapat Merugikan Industri Pariwisata Indonesia

Menurut Ahmad, pencemaran udara akibat Bahan Bakar Minyak (BBM) kotor bisa mengancam industri pariwisata dari negara maju.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Foto suasana gedung bertingkat dan cerahnya Jakarta tampak di Kawasan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2020). Kualitas udara Jakarta terus membaik seiring dengan minimnya aktivitas selama masa tanggap darurat virus corona di Ibu kota. Berdasarkan aplikasi pemantau udara IQ Air Visual menunjukkan peringkat Jakarta dalam polusi udara dengan nilai 42 dalam rentan 0 sampai 500 pada pukul 11.13 WIB Tercatat juga kualitas udara dengan poin 42 menunjukkan kategori 'Good'. Dijelaskan kualitas udara ini hanya memiliki resiko gas beracun yang kecil. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hari Darmawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Syarifudin, mengatakan pencemaran udara dapat merugikan sektor pariwisata Indonesia.

Menurut Ahmad, pencemaran udara akibat bahan bakar minyak (BBM) kotor bisa mengancam industri pariwisata dari negara maju.

Baca: Pertamina Diskon Harga Pertalite Agar Masyarakat Tinggalkan BBM Premium, Berlaku di Provinsi Ini

Baca: BBM Premium dan Pertalite Bakal Dihapus, Ini Komentar APM

"Hal ini karena wisatawan dari negara maju, sangat peduli dalam pengendalian pencemaran udara," ucap Ahmad dalam diskusi online, Jumat (24/7/2020).

Kemudian Ahmad juga menjelaskan, pencemaran udara dapat merugikan banyak hal seperti perubahan iklim, terjadinya hujan asam, hingga masalah kesehatan.

Sumber pencemaran udara, lanjut Ahmad, terdiri dari banyak hal seperti transportasi, industri atau perhotelan, proses konstruksi serta pengelolaan sampah.

"Pada transportasi yang mempengaruhi pencemaran udara adalah gas emisi yang dikeluarkan, terlebih lagi apabila BBM-nya berkualitas rendah," ujar Ahmad.

Mobil pribadi, menurut Ahmad, bila menggunakan BBM kualitas rendah dengan RON 88 akan mengeluarkan emisi yang cukup tinggi.

Berbeda apabila menggunakan BBM berkualitas, dengan RON 94.

"Mobil dengan penggunaan BBM kualitas rendah ini, akan menjadi sumber pencemaran udara yang bergerak setiap hari," ujar Ahmad.

Maka dari itu, Ahmad menyebutkan, agar dapat mengurangi pencemaran udara harus ada peraturan tegas untuk BBM ini agar yang digunakan masyarakat hanya BBM berkualitas bagus.

Penulis: Hari Darmawan
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved