Breaking News:

Perbankan Hadapi Dua Tantangan Besar di Era 5G

Perbankan harus bersiap menyambut datangnya era 5G sekaligus mengadopsi teknologi digital yang relevan bagi peningkatan layanan.

Foto ITU
Ilustrasi 5G 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat sejak era 2G berganti 3G, kemudian 4G hingga kini menghadapi era 5G.

Perubahan teknologi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan.

Dunia perbankan harus bersiap menghadapi dua tantangan besar di era 5G yakni Fintech dan Neobank atau The Challenger Bank.

Chairman & Founder TEZ Capital Group, Arwin Rasyid mengatakan, untuk menghadapi kedua tantangan utama perbankan memerlukan inovasi yang mengikuti perkembangan peradaban.

Menurutnya, perbankan harus bersiap menyambut datangnya era 5G sekaligus mengadopsi teknologi digital yang relevan bagi peningkatan layanan.

Ilustrasi 5G
Ilustrasi 5G (Istimewa)

"Perbankan juga harus melakukan transformasi digital berdasarkan empat pilar budaya Inovasi, Customer and User Experience (CX & UX), Cross-Selling yang Efektif dan SDM terlatih," katanya dalam peluncuran buku ‘Digital Banking Revolution-Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech’ yang digelar virtual di Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Mantan Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tersebut menekankan perbankan harus mengantisipasi bisnis ke depan yang tak hanya berorientasi pada pertumbuhan aset namun juga pada pengembangan konten.

Dia meyakini perbankan harus menyesuaikan paradigma Fintech dan Neobank yang sudah terbukti berhasil meraih kepercayaan masyarakat.

Baca: Ditekan Inggris Soal 5G, Bos Huawei: Kebutuhan dan Kepercayan Pelanggan Lebih Penting

Fintech P2P Lending mulai berhasil meraih kepercayaan masyarakat melalui berbagai kemudahan dan kecepatan proses pengajuan pinjaman dan persetujuan yang diberikan.

Semua dimungkinkan dengan bantuan teknologi digital.

"Meski penetrasi layanan Fintech di Indonesia baru 5 persen namun di berbagai negara cukup tinggi yakni China 67 persen, Hong Kong 57 persen, New Zealand 54 persen, India 39 persen, dan Australia 17 persen," imbuh Arwin.

Lebih lanjut, Arwin menilai Neobank adalah bank yang beroperasi secara digital penuh, tanpa kehadiran kantor cabang.

Neobank lahir dari aplikasi teknologi chatting atau aplikasi sosial media lainnya KakaoTalk di Korea, KlarnaBank di Swedia, WeBank di China.

"Bayangkan, betapa dahsyatnya jika Whatsapps yang memiliki 2 miliar active users mendirikan Neobank," ujar mantan Dirut Bank CIMB Niaga ini.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved