Breaking News:

Teten : Jumlah Wirausahawan di Indonesia Masih Terlalu Kecil

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, jumlah wirausahawan di tanah air tidak sebanding dengan populasi penduduk.

Tribunnews.com/Reynas Abdila
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, jumlah wirausahawan di tanah air tidak sebanding dengan populasi penduduk.

Dia menyampaikan persentase jumlah wirausahawan masih di bawah empat persen.

"Kalau kita ingin menuju negara maju salah satunya jumlah wirausahawan semakin banyak. Ciri-ciri negara maju di mana jumlah persentase wirausahawan harus semakin besar," kata Teten dalam soft launching Kakak Asuh UMKM, di Jakarta, Senin (31/8/2020).

"Empat persen angka yang terlalu kecil untuk populasi Indonesia yang sangat besar," sambungnya.

Menteri Teten menambahkan kementerian akan mendorong wirausahawan yang didominasi dari generasi muda.

Menurutnya, pemerintah akan terus memupuk dan membina kerjasama yang baik untuk pertumbuhan ekosistem wirausaha.

"Sekarang banyak anak-anak muda yang punya relasi bagus, dan punya latar belakang pendidikan yang bagus. Ini lah the future Smesco Indonesia termasuk kita bisa menaikan ekspor sesuai arahan Bapak Presiden," pungkas dia.

Baca: Didampingi Pratikno dan Teten Masduki, Jokowi Berikan Bantuan Modal Kerja Kepada Pedagang Kecil

Baca: Wirausahawan Baru Bermunculan, Properti Komersial Makin Prospektif

Baca: Wirausahawan Baru Indonesia Siap Dicetak dari Ajang Kompetisi Pelajar Ini

Teten menyebut pentingnya gerakan UMKM naik kelas yang saat ini menjadi prioritas bukan untuk menciptakan konglomerasi baru.

"Karena itu, harus ada UMKM naik kelas. Naik kelas itu bukan berarti melahirkan konglomerasi baru tapi untuk menciptakan keadilan ekonomi. Kue ekonomi yang tadinya dikuasai usaha besar dibagi ke UMKM," kata Teten.

UMKM naik kelas artinya jumlah wirausaha akan tumbuh.

Teten menjelaskan strategi untuk mencapai UMKM naik kelas dengan cara membuka akses pasar seluas-luasnya di dalam negeri dan ekspor.

Di dalam negeri, dilakukan dengan memprioritaskan produk UMKM untuk pengadaan barang dan jasa K/L.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved