Breaking News:

Maraknya Fintech Lending Dorong Percepatan Inklusi Keuangan di Indonesia

Webinar kali ini menyoroti perkembangan 154 perusahaan financial technology (fintech) peer-to-peer lending atau fintech lending

IST
ILUSTRASI 

Laporan Wartawan Tribunnews, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School (STIE - IBS) Jakarta menggelar webinar bertajuk “Evolving Landscape of Fintech Lending in Indonesia”, Jumat 18 Desember 2020.

Hadir sebagai pembicara Reynold Wijaya, Ketua Klaster Pendanaan Produktif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dengan mederator Dr. Nuri Wulandari, S.E., M. Sc., Wakil Ketua III IBS.

Webinar kali ini menyoroti perkembangan 154 perusahaan financial technology (fintech) peer-to-peer lending atau fintech lending yang terdaftar dan berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jumlah fintech saat ini termasuk besar.

Kehadiran fintech di Indonesia saat ini dinilai mampu membawa inovasi dan perubahan pada industri keuangan dan perbankan dengan meningkatkan inklusi keuangan.

Baca juga: Rekomendasi PPI Jepang: Pemerintah Perkuat Fintech Pendanaan UMKM

"Penerimaan positif terlihat pada meningkatnya angka penyaluran pinjaman. Data OJK pada Oktober 2020 akumulasi penyaluran pinjaman nasional Okttober 2020: Rp137,66 triliun (naik 102,44% yoy)."

"Angka partisipasi datang dari generasi muda 66% berusia 19 sd 34 tahun baik sebagai peminjam maupun pemberi pinjaman," jelas Ketua STIE-IBS Dr. Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono.

"Kehadiran fintech ini telah meningkatkan inklusi keuang kelompok milenial, terutama usia 35 tahun yang merupakan cakupan terbesar di Indonesia," sambungnya.

Baca juga: Status Terdaftar Bakal Dihapus, OJK Minta Fintech Yang Masih Terdaftar Untuk Ajukan Perizinan,

Di masa pandemi seperti saat ini, kata Kusumaningtuti, berbagai tantangan mewarnai dinamika fintech. Mulai dari pergeseran perilaku konsumen sampai dengan penurunan di yang terjadi di usaha kecil dan menengah.

Sektor UKM menjadi sektor yang paling terdampak, karena ketiadaan kegiatan di luar rumah oleh sebagian besar masyarakat, kenaikan harga barang dan penghasilan yang menurun.

Halaman
12
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved