Breaking News:

Soal Kampanye Anti Produk Sawit Indonesia di Swiss, Ini Respons Kemendag

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menegaskan kampanye anti masuknya kelapa sawit asal Indonesia di Swiss tidak memiliki dasar.

Fitri Wulandari
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2020) sore 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menegaskan kampanye anti masuknya kelapa sawit asal Indonesia di Swiss tidak memiliki dasar.

Menurutnya, berbagai kampanye dan pelarangan yang terjadi merupakan refleksi persaingan dagang dan tidak berpijak pada fakta yang sebenarnya.

“Ini refleksi ketakutan mereka terhadap tingginya daya saing kelapa sawit Indonesia. Jika bersaing secara sehat, kelapa sawit Indonesia jauh lebih murah dan lebih kompetitif daripada minyak nabati mereka yang berbahan rapeseed dan sejenisnya.” ucap Wamendag, Selasa (19/1/2021).

Baca juga: Wamendag: Sosialisasi Bursa Berjangka Komoditas Perlu Ditingkatkan di Kalangan Muda 

Sebelum Swiss, isu anti kelapa sawit sudah mengemuka beberapa tahun ini di Uni Eropa yang dipelopori oleh gerakan berbagai lembaga swadaya masyarakat. 

Mereka mengangkat isu-isu lingkungan, sosial dan kesehatan untuk meyakinkan pengambil kebijakan agar melarang kelapa sawit asal Indonesia. 

Indonesia juga sudah melakukan gugatan diskriminasi kelapa sawit di WTO (Organisasi Dagang Dunia).

“Kita sudah membuktikannya di sidang WTO. Mereka kesulitan bahkan tidak bisa menjawab ketika kita tanyakan aspek-aspek yang menjadi alasan mereka melarang produk kelapa sawit Indonesia. Ini membuktikan bahwa alasan sebenarnya dari hal ini adalah karena ketakutan untuk bersaing secara terbuka dengan sawit," terang Wamendag.

Jerry menekankan bahwa industri kelapa sawit Indonesia terus berproses menuju kondisi yang lebih baik dalam aspek lingkungan, sosiologis dan kesehatan.

Baca juga: Wamendag Jerry Optimistis Aktivitas Ekonomi 2021 Lebih Cerah

Indonesia misalnya berkomitmen untuk menjaga lebih dari 50 persen hutannya agar tetap lestari. 

Angka ini jauh lebih besar daripada komitmen negara-negara Uni Eropa yang saat ini hanya memiliki hutan sebesar belasan persen dari wilayahnya. 

Sebagian negara bahkan tutupan hutannya tidak sampai 10 persen. 

Wamendag sendiri mengatakan bahwa saat ini ia bersama timnya di Kementerian Perdagangan beserta stakeholder di industri kelapa sawit sedang mempersiapkan kampanye positif kelapa sawit. 

Diharapkan Tim Kampanye Positif Kelapa Sawit ini bisa memberikan pandangan dan wawasan yang sebenarnya mengenai kelapa sawit kepada masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.

“Industri kelapa sawit itu penting bagi ekonomi Indonesia. Jangan sampai kampanye negatif dan tidak adil  mengancam kedaulatan dan kepentingan ekonomi Indonesia. Kita harus berjuang demi kesejahteraan rakyat secara keseluruhan," pungkasnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved