Breaking News:

Relaksasi PPnBM ke Sektor Otomotif Akan Segera Diikuti Insentif Fiskal Lain

Susiwijono Moegiarso berharap kebijakan ini dapat menurunkan harga kendaraan bermotor dan meningkatkan pembelian kendaraan bermotor.

Ghulam N/KompasOtomotif
Aktivitas pabrik perakitan mobil DFSK di PT Sokonindo Automobile di Cikande, Banten, Selasa (28/11/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Lita Febriani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah meluncurkan paket kebijakan relaksasi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mendorong industri otomotif yang sedang dihimpit pandemi Covid-19.

Selain karena industri otomotif terdampak cukup dalam, di sisi lain multiply effect dari industri ini cukup besar karena sektor pendukungnya juga cukup banyak.

Sekretaris Menteri Koordinator Perekonomian, Susiwijono Moegiarso berharap kebijakan ini dapat menurunkan harga kendaraan bermotor dan meningkatkan pembelian kendaraan bermotor.

"Skemanya yakni pemberian insentif fiskal PPnBM ditanggung Pemerintah yang ditargetkan berlaku 1 Maret 2021 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2021," terang Susiwijono saat webinar bertajuk Daya Ungkit Ekonomi Bangkit, Selasa (16/2/2021).

PPnBM direncanakan akan dilakukan bertahap, peraturannya akan direvisi dan dievaluasi setiap tiga bulan.

Baca juga: Menteri Perdagangan: Relaksasi PPnBM Berdampak Besar ke Rantai Pasok

Kebijakan PPnBM juga direncanakan akan berjalan dengan kebijakan fiskal yang lain.

"Menko Perekonomian juga telah bersurat kepada Kemenkeu, OJK dan BI karena melihat skema pembelian kendaraan bermotor di masyarakat sebagian besar melalui kredit. Nantinya juga beberapa kebijakan yang lain akan mengiringi kebijakan PPnBM ini," ungkap Susiwijono.

Baca juga: Catat, Ini Kriteria Mobil Baru yang Dikenai PPnBM 0 Persen Mulai Maret 2021

Pengamat ekonomi Piter Abdullah menyebut, program ini akan memanfaatkan daya beli di masyarakat yang masih ada.

"Saya mendukung kebijakan ini, dalam rangka mendorong permintaan. Kebijakan ini cukup tepat apabila menyasar kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas. Kalau kita kembalikan daya belinya, efeknya akan sangat besar bagi pertumbuhan demand kita," jelas Piter.

Tujuan relaksasi PPnBM ialah untuk meningkatkan konsumsi dan pilihan untuk mendorong pembelian otomotif, yang dampak dari hulu sampai hilirnya akan sangat besar.

"Ini membantu industri otomotif mampu bertahan sampai menunggu pandemi berakhir. Tentu dengan catatan nantinya kebijakan ini bisa diperluas, tidak hanya menyasar kelompok ekonomi menengah ke bawah."

"Secara keseluruhan saya mengapresiasi kebijakan ini karena dengan adanya konsumsi yang kembali tumbuh akan menggerakkan industri sehingga memunculkan kembali lapangan kerja," ujar Piter.

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved