Breaking News:

Luhut Bilang 70 Persen Alat Pendeteksi Gempa di Indonesia Masih Impor

Luhut menyebut, 70 persen alat pendeteksi dini gempa dan tsunami yang ada di Indonesia masih impor dari negara lain.

Istimewa
Proses pemasangan Buoy Merah Putih oleh tim teknis Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), Minggu (14/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia merupakan wilayah dengan potensi gempa bumi yang sangat banyak di Dunia.

Namun Luhut menyebut, 70 persen alat pendeteksi dini gempa dan tsunami yang ada di Indonesia masih impor dari negara lain.

Hal itu disampaikan Luhut saat Rakornas Penangulangan Bencana tahun 2021 melalui siaran kanal YouTube BNPB Indonesia, Kamis (4/3/2021).

“Kita termasuk gempa yang paling banyak di dunia. Alat kita mungkin 70 persen (impor) dari negara lain,” kata Luhut.

Luhut meminta kepada Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati agar bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bisa membuat alat deteksi gempa dan tsunami di Indonesia.

Baca juga: Luhut Ungkap 9 Zona Potensi Gempa yang Perlu Diwaspadai di Tahun 2021 

“Jangan semua impor saja,” ungkapnya.

Luhut juga mengatakan, buoy atau pelampung untuk mendeteksi gelombang pasang dan tsunami sudah bisa dibuat di Indonesia.

Baca juga: Peringatan 10 Tahun Gempa Bumi Besar Jepang Timur 11 Maret Digelar di Teater Nasional Chiyodaku

Sehingga, upaya itu terus didorong agar daya saing produk Indonesia meningkat.

“Ternyata kita bikin buoy sudah bisa. Ya bikin bouy kita sendirilah, sehingga juga menciptakan lapangan kerja,” kata Luhut.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved