Breaking News:

Investor Pemula Perlu Kenali Dulu Makna Berinvestasi di Saham Agar Tak Terjebak Jadi Spekulan

Keputusan berinvestasi dapat dikatakan sukses jika imbal hasil atau keuntungannya telah melebihi tingkat inflasi dan suku bunga bank selama setahun. 

Tribunnews/Jeprima
Karyawan beraktivitas di antara layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2020). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebelum berinvestasi saham, sebaiknya investor pemula harus memahami makna kata investasi terlebih dahulu agar tidak berujung jadi spekulan. 

Kepala Riset PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, investasi itu menunda konsumsi saat ini untuk dialokasikan ke aset yang mampu berkembang di masa yang akan datang. 

Investasi juga dapat diartikan sebagai langkah untuk melindungi aset dari inflasi. 

Keputusan berinvestasi dapat dikatakan sukses jika tingkat imbal hasil atau keuntungannya telah melebihi tingkat inflasi dan suku bunga bank selama setahun. 

"Investasi dan spekulasi itu berbeda. Investasi tahu apa yang akan kita beli untuk mengalokasikan dana saat ini ke aset yang mampu berkembang. Sementara, spekulasi tidak paham apa yang dibeli dan hanya melihat keuntungan sesaat," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews, Rabu (24/3/2021). 

Baca juga: Analis: Investasi Saham Harus Pakai Dana Dingin Biar Tidak Berujung Stres

Untuk investor pemula, dianjurkan melakukan investasi jangka menengah dan panjang lebih dahulu sambil menempa kemampuan analisa. 

Tips pilih saham untuk pemula 

Lalu, investor pemula memilih sahamnya berdasarkan apa? Dari influencer? Analisa sendiri? Atau dari sumber terpercaya yang memang berpengalaman investasi saham? 

Baca juga: 27 Calon Emiten Baru Siap Melantai di Pasar Modal

Lanjar menjelaskan, sebaiknya berdasarkan sumber independen dan profil risiko setiap individu itu sendiri. 

Selanjutnya, ketahui bisnis usaha perusahaanya dan prospek ke depan karena membeli saham sama dengan membeli bisnis perusahaan tersebut. 

"Lalu, kalau memang sedang posisi floating loss, apa yang harus dilakukan biar tidak setres? Cari peluang di saham lain atau hold saja karena fundamental perusahaan baik? Perlu dicatat, unrealized loss itu bukan berarti alami kerugian secara rill," tutur Lanjar. 

Karena itu, selama saham yang dibeli tersebut belum kita jual dan memiliki prospek ke depan dalam segi bisnis cukup baik itu sangat tidak masalah. 

"Akan menjadi masalah jika saham yang kita punya tidak tahu prospek ke depannya dari segi bisnis baik atau tidak alias ikut-ikutan beli," ujarya.

"Intinya jika kita sudah melakukan analisa secara independen, minimal melihat cara perusahaan tersebut meraih laba bersihnya mengalami tren positif dari tahun-tahun sebelumnya maka unrealized loss tidak akan bikin stres," pungkasnya.

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved