Investasi Ilegal Masih Marak, OJK Beberkan Ciri-ciri Untuk Mengenalinya

Jumlah kerugian akibat investasi ilegal yang dialami masyarakat mencapai Rp114,9 triliun

Editor: Eko Sutriyanto
Tribun Jabar/ Fauzi Noviandi
Posko Pengaduan investasi Bodong Di Mapolres Sukabumi Kota 

Laporan Wartawan Tribunnews, Bambang Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat, kejahatan keuangan atau investasi ilegal masih banyak ditemukan di tengah masyarakat.

Jumlah kerugian akibat investasi ilegal yang dialami masyarakat mencapai Rp114,9 triliun.

Dalam catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai kerugian tersebut dihimpun sejak hampir satu dekade terakhir yakni sejak 2011 hingga 2020.

Dengan adanya hal tersebut, OJK tak pernah bosan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarkat.

Agar tentunya masyarakat mampu membedakan antara investasi ilegal dengan yang asli

Lantas, apa ciri-ciri investasi ilegal yang sering memakan korban dan memunculkan kerugian materi?

Baca juga: Kebijakan OJK Redam Volatilitas Pasar Modal dan Restrukrisasi Jalan Terus 

Deputi Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sardjito membeberkan, terdapat setidaknya 6 ciri-ciri investasi ilegal.

Ciri pertama investasi ilegal adalah, menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu yang cepat.

Kemudian yang kedua, menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru atau biasa disebut member get member.

"ciri-ciri ini menjanjikan keuntungan seperti manusia membantu manusia. Menjanjikan macam-macam bonus dari perekrutan anggota baru,” jelas Sardjito pada diskusi virtual Melindungi Masyarakat dari Jeratan Fintech dan Investasi ilegal, Selasa (13/4/2021).

Ia melanjutkan, untuk ketiga adalah memanfaatkan tokoh masyarakat atau tokoh agama atau tokoh publik, untuk menarik minat masyarakat.

Baca juga: OJK: Belum Ada BUMN yang Berencana Catatkan Saham di Bursa Tahun Ini

Dalam hal ini, pelaku investasi bodong akan mencatut nama seorang tokoh agar masyarakat semakin yakin dengan investasi bodong yang mereka jalankan.

Untuk ciri keempat yang harus diketahui ialah produk investasi yang menjanjikan bebas risiko (risk free) yang berlebih.

Sementara ciri kelima yakni tidak memiliki legalitas beroperasi salah satunya dari OJK.

Dalam hal ini legalitas izin dipertanyakan. Seperti tidak memiliki izin, memiliki izin kelembagaan tapi tidak punya izin usaha, atau memiliki izin kelembagaan dan izin usaha namun melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin usaha yang dimiliki.

Dan ciri terakhir atau yang keenam adalah, produk investasi digital yang tidak jelas atau tidak perlu usaha untuk mendapatkan imbalan.

Maka dari itu, Sardjito mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak mudah terhasut investasi ilegal.

Lanjutnya, apabila masyarakat ragu dengan investasi yang ingin mereka lakukan, ada baiknya terlebih dahulu mencari informasi dengan menghubungi OJK

"Untuk mengecek investasi tersebut terdaftar atau tidak, tinggal hubungi OJK di nomor 157. Sekali ketipu sulit uang akan kembali,” pungkas Sardjito.
 

--

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved