Breaking News:

Mudik Lebaran 2021

Ada Larangan Mudik, Masyarakat Mulai Colong Start, Agen PO Bus Sebut Tak Bisa Tutup Kerugian

Meski memberatkan sejumlah agen Perusahaan Otobus (PO), para pekerja di sektor ini masih berharap akan ada keringanan dari kebijakan itu.

WARTA KOTA/WARTA KOTA/NUR ICHSAN
MUDIK LEBIH AWAL - Calon penumpang memadati Terminal AKAP Kalideres, Jakarta Barat, Jumat (9/4/2021). Terkait adanya larangan mudik oleh pemerintah, sejumlah warga mengakalinya dengan mudik lebih awal untuk menjalani tradisi munggah yakni menjalani pekan pertama puasa ramadan di kampung bersama keluarga besarnya, setelah itu mereka kembali lagi ke Jakarta dan merayakan lebaran di ibukota. WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fandi Permana

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG SELATAN - Larangan mudik Idul Fitri 2021 akan segera diberlakukan oleh pemerintah mulai 6-17 Mei 2021.

Meski memberatkan sejumlah agen Perusahaan Otobus (PO), para pekerja di sektor ini masih berharap akan ada keringanan dari kebijakan itu. Terlebih, sejak setahun terakhir ini omzet perusahaan menurun drastis karena pelarangan mobilitas armada bus.

Sejumlah masyarakat pun berinisiatif untuk menghindari larangan pemerintah itu dengan opsi mudik duluan alias colong start. Namun, meski ada peningkatan jumlah penumpang di minggu ini tetao tidak akan menutup kerugian besar yang dialami sejumlah PO bus.

Baca juga: Pemerintah Buka Tempat Wisata Tapi Larang Mudik, Menparekraf: Sesuaikan PPKM Daerah Setempat

Salah satunya yang dialami PO Pahala Kencana Ciputat, Tangerang Selatan.

Menurut salah satu agen tiket bus tersebut, meningkatnya jumlah penumpang seminggu terakhir ini belum bisa menutupi kerugian perusahaan.

"Tidak ada, mas. Karena jujur, meski ada peningkatan penumpang sekitar 20 persen yang berangkat ke luar kota, hitungannya tetap minim karena tidak bisa menutupi kerugian kami," kata agen tiket PO Pahala Kencana Ciputat Aril.

Baca juga: Polri Ralat Pernyataan Diperbolehkan Curi Start Mudik Lebaran Sebelum 6 Mei 2021

Aril menambahkan, pihaknya tak berani memberlakuan skema full capacity atau kapasitas penuh pada armada busnya.

Sebab, meski belum ada penyekatan di sejumlah rute yang ditempuh, pihaknya ingin operasional bisnisnya tetap berjalan meski harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Saat ini yang berangkat kita batasi 50 persen penumpang saja. Kami gak berani angkut penuh, khawatir ada sidak di jalan atau petugas Satgas yang inspeksi, makanya kita berlakukan ongkos dobel dari biasanya," tambah Aril.

Halaman
1234
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved