Breaking News:

Indeks Tembus Rekor, Ekonomi AS Dinilai Lebih Cepat Pulih karena Ini

Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, dari 6 emiten bank papan atas yang telah merilis laba, mayoritas menunjukan kinerja yang solid. 

Tribunnews/Jeprima
Karyawan beraktivitas di antara layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (25/9/2020). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Perdagangan saham di Wall Street tercatat naik menuju rekor tertinggi di tengah rilis laporan laba emiten-emiten blue chip yang kuat dan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang baik sebagai sinyal pemulihan ekonomi. 

Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan, dari 6 emiten bank papan atas yang telah merilis laba, mayoritas menunjukan kinerja yang solid. 

"Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menembus 34.000 adalah sinyal bahwa minat investor untuk prospek pertumbuhan di masa depan meningkat. Pelaku pasar bergerak ke emiten-emiten yang lebih berorientasi pada valuasi," ujar dia mengutip risetnya, Selasa (20/4/2021). 

Sementara itu, permintaan untuk saham industri dan saham siklikal diperkirakan akan terus berlanjut karena program vaksin yang sukses dan kinerja emiten lebih baik dari perkiraan sebelumnya. 

Baca juga: Anjlok 53,79 Persen, Laba Bersih Pelindo II Cuma Rp 1,15 Triliun

"Kenaikan kinerja emiten Wall Street mengkonfirmasi pemulihan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat," kata Hans. 

Dia menjelaskan, Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel periode Maret 2021 tumbuh 9,8 persen. 

Baca juga: Analis Sarankan Investor Saham Ambil Aksi Profit Taking Sebelum Mei

Data tersebut melebihi konsensus Dow Jones yang memprediksi akan ada kenaikan penjualan ritel sebesar 6,1 persen dan merupakan kenaikan terkuat sejak Mei 2020. 

Baca juga: Investor Disarankan Jauhi Dulu Saham-saham Emiten BUMN, Harganya Sudah Kemahalan

Penjualan ritel naik akibat stimulus fiskal tambahan dari pemerintah yang salah satunya berupa bantuan tunai sebesar 1,400 dolar AS, sehingga membuat belanja konsumen melonjak. 

Hans menambahkan, Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan jumlah klaim pengangguran baru mingguan untuk periode hingga 10 April tercatat hanya 576.000, jauh lebih rendah dari konsensus Dow Jones sebesar 710.000. 

"Klaim tunjangan pengangguran untuk pertama kali turun ke posisi terendah sejak Maret 2020. Data ekonomi Amerika Serikat yang baik menjadi katalis kenaikan pasar saham," pungkasnya.

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved