Breaking News:

Menkeu Targetkan Pertumbuhan Ekonomi RI Pada 2022 Tembus 5,8 Persen

Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2022 sebesar 5,8 persen year on year

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2022 sebesar 5,8 persen year on year (yoy).

Menkeu menyebut, proyeksi tersebut bisa tercapai apabila terjadi reformasi struktural.

Sri Mulyani optimistis, pada tahun 2022 ekonomi bisa melejit dari perkiraan pertumbuhan di 2021 yang berkisar 4,5 persen hingga 5,3 persen yoy.

Baca juga: Investasi Jadi Kunci Realisasi Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen di 2022

Agar mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan, Menkeu bilang faktor pendorong utamanya yakni investasi dan ekspor.

Menkeu memerinci dengan reformasi, pada 2022 konsumsi rumah tangga diharapkan tumbuh 5,2 persen yoy, konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) 7,2 persen yoy, konsumsi pemerintah 5,2 persen yoy, investasi 6,6 persen yoy, ekspor 6,8 persen yoy, dan impor 6,1 persen yoy.

Ada empat reformasi yang diperlukan untuk mendorong ekonomi tahun depan. Pertama, human capital didisain dengan belanja negara di bidang pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial. Kedua, physical capital mencakup infrastruktur konvensional dan digital.

Baca juga: Pembayaran THR Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional dari Sisi Permintaan

Ketiga, reformasi birokrasi dan regulasi yang lebih mudah dan simple. Keempat, reformasi fundamental sebagai fondasi baru ekonomi untuk transformasi ekonomi, termasuk kebijakan yang mampu menekan penggunaan karbon.

Oleh karenanya, Menkeu mengatakan keempat reformasi tersebut dapat berjalan dengan mulus apabila kunci reformasi melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja perlu segera diimplementasikan. Dus investasi dan ekspor bisa terdongkrak.

“Apabila kita melakukan reformasi struktural dengan cepat dan tepat, maka kita akan bisa membentuk apa yang disebut dengan capital inflow dan juga penggunakan capital di dalam negeri yang lebih produktif, dan ini akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas dengan reformasi signifikan perbedaannya,” kata Menkeu saat Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2021, Kamis (29/4).

Dari sisi fiskal, Menkeu mengatakan jika investasi dan ekspor melejit maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali sehat. Defisit APBN diyakini bisa kembali berada dalam zona normal di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Halaman
12
Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved