Breaking News:

IPO Jadi Cara GoTo Berbagi Kepemilikan Saham ke Masyarakat

IPO GoTo di lantai bursa dinilai menjadi momentum bagi perusahaan untuk berbagi kepemilikan kepada masyarakat

Editor: Choirul Arifin
Istimewa
Gojek dan Tokopedia resmi mengumumkan perusahaan baru hasil kolaborasi keduanya yang diberi nama Grup GoTo. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana GoTo go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu daya tarik lain dari hasil kolaborasi Gojek dan Tokopedia.

Penjualan saham GoTo di lantai bursa dinilai menjadi momentum bagi perusahaan untuk berbagi kepemilikan kepada masyarakat, sekaligus kesempatan terbuka bagi semua pihak menjadi bagian dari dua perusahaan platform digital karya anak bangsa itu.

Kepala OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Institute Agus Sugiarto mengatakan penawaran saham kepada publik atau biasa disebut Initial Public Offering (IPO) GoTo sehingga sahamnya tercatat di Bursa adalah bagian dari sinergi yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

”Karena sudah ditunggu-tunggu juga oleh investor di pasar modal. Kami berharap jutaan masyarakat Indonesia bisa berpartisipasi memiliki Gojek dan Tokopedia ini sehingga setelah IPO bisa transparan, kinerja semakin baik, dan menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia,” ungkapnya saat memberikan sambutan di Seminar Virtual “Dampak Merging Antara Platforms: Studi Kasus Gojek dan Tokopedia” yang diselenggarakan LPEM FEB UI, Rabu (2/6/2021).

Ekonom Digital LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Chaikal Nuryakin mengatakan, GoTo bisa melihat beberapa perusahaan digital besar global yang melakukan IPO dan terdapat contoh sukses serta contoh sebaliknya.

”Contoh yang berhasil itu Facebook, Alibaba, dan SEA Group,” ungkapnya pada kesempatan yang sama. Sedangkan contoh sebaliknya adalah Lyft, Uber, dan WeWork.

Baca juga: LPEM UI: Kolaborasi Gojek-Tokopedia di GoTo Tambahkan Stimulus Rp 35 Trililun ke Perekonomian RI

Berdasarkan riset yang dilakukan, Chaikal mengungkapkan alasan keberhasilan perusahaan digital saat IPO di antaranya adalah manajemen yang baik, mudah beradaptasi, dan bisa sesuai dengan ekspektasi publik, serta dukungan utama dari modal ventura atau investor sebagai bantalan bagi perusahaan.

Baca juga: GoTo Diharapkan Tingkatkan Kesejahteraan Mitra Driver

”Alasan yang gagal melakukan IPO adalah miskomunikasi kondisi riil perusahaan kepada investor, perusahaan tertutup terlalu lama, kinerja perusahaan tidak sesuai ekspektasi investor, tata kelola perusahaan tidak siap terhadap pengawasan publik, dan kurangnya persiapan untuk melakukan IPO,” Chaikal memaparkan.

Chaikal berharap GoTo bisa belajar dari dua contoh bertentangan dari IPO perusahaan-perusahaan digital global.

Bagaimanapun IPO memberikan sejumlah keuntungan antara lain sumber pendanaan yang tidak terbatas untuk mendukung ekspansi bisnis, meningkatkan citra perusahaan, penerapan tata kelola yang baik (GCG), insentif pajak, dan spillover (pengalihan) investasi dari investor dalam dan luar negeri.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved