Breaking News:

Ekonom: Ambisi Indonesia Jadi Negara Maju di 2045 Bisa Terhambat karena Masih Andalkan Komoditas

Bhima menjelaskan, jika harga komoditas sedang booming, ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, perekonomian Indonesia masih amat bergantung pada tren harga komoditas ekspor utama Indonesia di pasar dunia.

Bhima menjelaskan, jika harga komoditas sedang booming, ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi.  

Namun, produsen penghasil komoditas selama ini malas untuk membangun sektor hilir di manufaktur dengan lebih memprioritaskan jual barang komoditas tambang dan pertanian langsung ke pasar dunia.

Hal ini secara jangka panjang akan mengancam pertumbuhan Indonesia sekaligus menghambat ambisi menjadi negara maju.

Baca juga: Pandemi, Permintaan Komoditas Kelapa Pandan Wangi Masih Tinggi

"Di 2045 jadi negara maju bisa tertunda lagi, bisa di 2050, di 2060, atau masuk jebakan negara kelas menengah. Artinya, jika masuk jebakan negara kelas menengah, selamanya tidak masuk kategori negara maju," ujarnya dalam acara "Live Talkshow: Indonesia Turun Kelas Versi Bank Dunia" yang diselenggarakan Tribun Network, Rabu (21/7/2021). 

Baca juga: Berdagang dengan Swiss, Indonesia Surplus, Ini 10 Komoditas Ekspor Utamanya

Menurut dia, naik turunnya ekonomi tanah air berdasarkan harga komoditas itu juga disebut sebagai Dutch disease atau penyakit Belanda 

"Kalau (komoditas) turun, (ekonomi) kita alami penurunan, itu penyakit Belanda, Dutch disease," kata Bhima. 

Memang ketika harga sedang booming, banyak orang kaya baru dari sektor komoditas tersebut. 

"Namun, susah jadi negara maju kalau tidak bisa meningkatkan nilai tambah komoditas. Pendapatan kita gitu-gitu saja," pungkasnya.

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved