Breaking News:

IHSG Berpotensi Berbalik Arah Menguat di Awal Perpanjangan PPKM Darurat

IHSG kemarin lusa ditutup minus 0,91 persen atau melemah signifikan sebesar 55,12 poin ke level 6.017,39 dengan pergerakan cenderung di zona merah

Tribunnews/Irwan Rismawan
Layar digital menampilkan pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (10/9/2020). Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini secara teknikal berpotensi berbalik menguat dengan support resistance 6.000 hingga 6.082 di awal perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. 

Kepala Riset PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, pergerakan IHSG secara teknikal terkoreksi namun mampu bertahan level support moving average 20 hari dan 50 hari, sehingga membuka peluang berbalik alami penguatan menghapus sebagian kerugian diperdagangan selanjutnya. 

"Momentum indikator stochastic dan RSI masih dalam bullish momentum dan memiliki span yang cukup lebar menuju lanjutan penguatan hingga kondisi overbought," ujar dia melalui risetnya, Rabu (21/7/2021). 

Lanjar menjelaskan, perdagangan hari ini investor akan menanti data aktifitas neraca perdagangan di Jepang dan data stok persediaan minyak di Amerika Serikat (AS). 

Baca juga: PPKM Darurat Berpeluang Diperpanjang, IHSG Diperkirakan Sulit Terbang

"Secara sentimen IHSG berpeluang menguat mengiringi optimisme bursa Asia," katanya. 

Kemarin, IHSG lusa ditutup minus 0,91 persen atau melemah signifikan sebesar 55,12 poin ke level 6.017,39 dengan pergerakan yang cenderung tertekan di zona merah sejak awal sesi perdagangan. 

Baca juga: Rentang Support Resistance IHSG Hari Ini Diprediksi di Kisaran 6.032 hingga 6.108 

"Indeks sektoral mayoritas melemah dipimpin indeks sektor material dasar, industri, kesehatan dan keuangan. Investor mengambil langkah aman menjelang libur Idul Adha pada hari selasa di tengah tingkat fluktuasi bursa global yang cukup tinggi pasca data inflasi AS dan kasus Covid-19 varian baru yang meluas," pungkas Lanjar.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved