Breaking News:

Jokowi akan Bangun Green Industrial Park Pertama di Dunia

Selain mendorong hilirisasi industri secara besar-besaran, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menekankan pentingnya prinsip ekonomi berkelanjutan.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hasanudin Aco
Sekretariat Presiden
Presiden Jokowi saat melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertema pembangunan smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau tepatnya di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, Selasa (12/10/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Selain mendorong hilirisasi industri secara besar-besaran, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menekankan pentingnya prinsip ekonomi berkelanjutan.

"Prinsip ekonomi berkelanjutan harus betul-betul kita jaga. Kita pegang teguh yaitu melalui green economy dan blue economy," kata Jokowi dalam pengarahan kepada peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII dan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII Tahun 2021 Lemhannas RI, di Istana Negara, Rabu, (13/10/2021).

Jokowi mengatakan hilirisasi industri harus dibarengi dengan prinsip ekonomi keberlanjutan.

Baca juga: Presiden Jokowi: Di Sektor Tambang Kita Jangan Jadi Tukang Gali Saja

Kekayaan sumber daya alam harus dimanfaatkan secara arif salah satunya dimanfaatkan dengan prinsip blue economy.

"Misalnya penangkapan (ikan) dikalkulasi. Boleh tapi dibarengi penanaman mangrove, budidaya ikan, sehingga semua berkelanjutan, jangan dilarang saja tidak boleh ditangkap solusinya apa dong? ini anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita," katanya.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam menerapkan ekonomi berkelanjutan maka pada bulan depan, pemerintah akan membangun green industrial park dengan produk keluarannya adalah produk hijau.

Pembangunan green industrial park, kata presiden, akan menjadi yang pertama di dunia.

Kawasan industri hijau tersebut dibangun di lahan seluas 20 hektar dengan sumber energi berasal dari sungai kayan, Kalimantan Utara.

"Karena ke depan, 10 tahun lagi, yang namanya Uni Eropa, Amerika tidak mau membayar barang yang dihasilkan industri yang mempergunakan misalnya batubara, engga mau lagi. Semua mengarah ke sana, sehingga kita harus mendahului," katanya.

Sejumlah perusahaan, kata presiden, sudah memesan untuk membangun industrinya di sana.

Alasan perusahaan tersebut ingin membangun industri kawasan tersebut, karena energi yang digunakan adalah energi hijau.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved