Tahun Pemulihan Ekonomi 2022, Market Tanah Air Semakin Optimistis, Ini Sejumlah Pemicunya

Pasar modal di Tanah Air dinilai semakin optimistis pada tahun pemulihan ekonomi 2022.

Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar modal di Tanah Air dinilai semakin optimistis pada tahun pemulihan ekonomi 2022.

Hal itu tak terlepas dari kondisi ekonomi domestik yang kian pulih pasca krisis akibat pandemi Covid-19 dan Indonesia mendapatkan rating satu tingkat di atas investment grade sehingga semakin menarik untuk tujuan investasi.

Praktisi pasar modal Vicella Tjhin memaparkan faktor-faktor yang mendorong optimisme tersebut. Salah satunya yakni tingkat inflasi yang terjaga di kisaran 3,5 persen, masih di bawah konsensus yaitu 3,6 persen.

Bahkan, kata dia, dibandingkan dengan rerata inflasi Indonesia selama 25 tahun terakhir yang sekitar 8,9 persen, persentase tersebut tergolong kecil. Persentase itu pun masih sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) yaitu 3 plus minus 1.

Baca juga: Bank Indonesia Catat Aliran Modal Asing Rp 10,37 Triliun Masuk ke Pasar Keuangan Domestik

“Kalau selama masih dalam range itu seharusnya masih oke. Kalau inflasi masih dalam batas-batas yang bisa diterima oleh pemerintah, oleh seperti yang dicanangkan pemerintah itu harusnya masih bagus untuk pertumbuhan. Karena pertumbuhan ekonomi kita paling 5 persen-6 persen. Kalau inflasi di atas itu sudah tidak bagus. Dan rata-rata inflasi ini di dunia 9,2 persen ya sampai bulan April kemarin,” ujarnya dalam acara Investment Talk bertema “Market di Persimpangan Tren” yang diselenggarakan secara daring oleh D'ORIGIN Financial & Business Advisory bekerjasama dengan IGICO Advisory pada Minggu (5/6/2022).

Kemudian dengan tingkat inflasi terjaga, BI pun masih menetapkan suku bunga di 3,5 persen. Bahkan persentase itu sudah bertahan 15 bulan sejak Februari 2021. Persentase suku bunga itu pun menjadi yang terendah.

Di sisi lain langkah Bank Indonesia menaikkan giro wajib minimum menurutnya sebagai strategi tepat ketika tren inflasi global meningkat. Hal itu membuat likuiditas di masyarakat tidak berlebihan. Seperti Juni ini, giro wajib minimum yang tadinya 5 persen dinaikan menjadi 6 persen. Sedangkan pada Juli akan dinaikan lagi menjadi 7,5 persen. Hingga September nanti targetnya menjadi 9 persen.

Faktor berikutnya adalah Indonesia mendapatkan rating satu tingkat di atas investment grade. Hal itu menjadi acuan fund manager asing berinvestasi di Indonesia. Hal itu terlihat dari dana asing yang masuk lagi dalam jumlah besar pasca momentum Lebaran.

Baca juga: IHSG Sesi I Anjlok 1,64 Persen ke 7.064, Investor Asing Tadah Saham BMRI, ASII dan BBCA

BI mencatat dana asing masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp 10,37 triliun pada periode 30 Mei-2 Juni 2022. Rinciannya, melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 5,94 triliun dan pasar saham ada sebanyak Rp 4,43 triliun.

“Untuk tujuan investasi Indonesia masih menarik. Jadi kadar ekonominya masih bagus. Makanya kita lihat dana asing juga mulai masuk lagi walaupun sempat kemarin keluar waktu Lebaran. Tapi sekarang sudah mulai masuk lagi. Karena mereka melihat ada potensi,” ujarnya.

Selain itu, soal nilai tukar rupiah. Menurut Vicella di tengah kondisi ekonomi dunia yang menghadapi ketidakpastian karena konflik geopolitik di Eropa, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) tergolong kecil yaitu 2,09 persen. Sementara beberapa mata uang negara-negara maju melemah cukup tajam seperti yen Jepang 9,46 persen, dan Yuan China 5,12 persen.

Dalam kesempatan yang sama VP Samuel Sekuritas Indonesia Muhamad Alfatih menyampaikan optimisme yang sama. Di antaranya terlihat dari harga komoditas yang jauh lebih baik dari 2021. Alfatih pun mengamini Vicella atas stabilnya rupiah.

Baca juga: Bukan Tekor, Telkom Klaim Untung Triliunan Rupiah Sejak Awal Inves di GoTo

“Tapi yang pasti adalah bahwa kurs kita lebih kurang sama dengan di tahun yang lalu. Sedangkan dari komoditas ini sudah di harga tertinggi sejak 2014. Yang bisa kita ambil di sini adalah bahwa harga rata-rata komoditas itu tahun ini masih jauh lebih baik dibanding tahun 2021,” ujarnya. Dia pun mencermati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menguat setidaknya sejak 2017. Sehingga pihaknya menargetkan IHSG tahun ini mencapai kisaran level 7.360-7.450.

Saham Pilihan

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved