Nilai Tukar Rupiah

Naiknya Suku Bunga BI Dinilai Jadi Booster Rupiah agar Tidak Melemah Terlalu Dalam

Pengamat keuangan Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa menjauhi level Rp 15.000.ini syaratnya

Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pengamat keuangan Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa menjauhi level Rp 15.000 dengan syarat Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga di Juli ini. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat keuangan Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa menjauhi level Rp 15.000 dengan syarat Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga di Juli ini.

Karena itu, pelaku pasar dinilainya sangat menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada bulan ini, di mana berpengaruh terhadap pergerakan rupiah.

"RDG BI bakal dinantikan pasar pekan ini. Kenaikan suku bunga acuan BI tentu bisa menjadi booster bagi rupiah, paling tidak menjaga rupiah tidak melemah terlalu jauh terhadap dolar AS," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews.com, Senin (18/7/2022).

Baca juga: Rupiah Dapat Banyak Tekanan Pekan Depan, Diprediksi Tembus Rp 15.000

Menurutnya dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed yang agresif tahun ini hingga bisa ke angka 3 persen di akhir tahun, spread yield dengan suku bunga acuan BI semakin tipis.

"Ini membuat aset dolar AS menjadi lebih menarik dari aset rupiah, sehingga investor asing lebih tertarik dengan aset dolar AS dan memberikan tekanan ke rupiah," katanya.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sejumlah negara maju tengah menaikkan suku bunga menyusul kebijakan pengetatan moneter yang diberlakukan The Fed secara agresif.

Baca juga: Jumat Sore, Rupiah Menguat ke Level Rp 14.999, Pengamat: Pekan Depan Berpotensi Kembali Melemah

Bahkan, disinyalir suku bunga The Fed akan semakin agresif lagi kenaikannya di bulan Juli ini, mengingat rilis inflasi Juni terakselerasi hingga 9,1 persen secara tahunan atau di atas konsensus.

"Kami melihat bahwa Indonesia melalui bank sentral kita tampak tenang pada semester I, bahkan cenderung tidak begitu terpengaruh dengan sejumlah negara yang telah mengetatkan moneternya. Hal tersebut mengingat style BI yang cenderung prudent dalam mengambil keputusan, apalagi saat ini kondisi geopolitik berimbas kemana-mana membuat masyarakat semakin sulit," tuturnya.

Kendati demikian, Nico menilai BI tahu bahwa spread suku bunganya dengan suku bunga The Fed tengah mengecil, sehingga dilema itu pasti dirasakan.

Masalahnya, BI juga memiliki sejumlah prasyarat seperti inflasi dan inflasi inti yang harus terpenuhi untuk menaikkan suku bunga, di mana memiliki efek samping atau risiko.

"Namun, inflasi inti yang masih terkendali, tetapi nilai tukarnya semakin melemah hingga capital outflow terus berlangsung tentu saja jadi pertimbangan, sebab ini menjadi currency risk. Untuk itu, BI yang baru-baru ini mensinyalir kenaikan suku bunga, setidaknya membangkitkan kembali optimisme baik di pasar saham maupun pasar keuangan," pungkas Nico.

Senin Pagi Rupiah Menguat Tipis Terhadap Dolar AS, Kini di Level Rp 14.996

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi (18/7/2022) pagi terpantau menguat. Melansir data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB, rupiah berada di level Rp 14.996 per dolar AS.

Pada penutupan Jumat lalu (15/7/2022), merujuk data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar Rupiah berada di level Rp 14.999 per dolar AS.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved