Antisipasi Naiknya Harga Gandum, Badan Pangan Nasional Dorong Konsumsi Bahan Pangan Lokal

kenaikan harga gandum yang dapat mengakibatkan naiknya harga mie dan roti di dalam negeri merupakan peringatan

Editor: Sanusi
HO
Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi bersama FAO Representative Indonesia Rajendra Aryal saat mengunjungi stand aneka ragam produk pangan pada Peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia, Selasa 7 Juni 2022 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang antara Rusia dan Ukraina telah mendongkrak harga pangan termasuk gandum. Pasalnya, Ukraina yang merupakan penghasil gandum tidak dapat leluasa mengekspor komoditasnya untuk memenuhi pasokan global.

Mengantisipasi potensi kenaikan harga gandum dunia yang dapat berpengaruh pada kenaikan harga pangan dalam negeri seperti roti dan mie, Badan Pangan Nasional/NFA (National Food Agency) melakukan upaya mitigasi salah satunya dengan mendorong penganekaragaman konsumsi pangan. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala NFA Arief Prasetyo Adi, di Kantor NFA, Jakarta, Rabu (20/7/2022).

Arief menjelaskan, kenaikan harga gandum yang dapat mengakibatkan naiknya harga mie dan roti di dalam negeri merupakan peringatan untuk memperkuat kembali komitmen penganekaragaman konsumsi pangan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

Baca juga: Putin Akan Bertolak ke Iran Untuk Bahas Ekspor Gandum Ukraina

Saat ini sumber pangan lokal sudah tersedia dimana-mana bahkan aneka olahan pangan sudah banyak dijual baik melalui onsite maupun online.

"Kita perlu mendorong masyarakat untuk mengonsumsi olahan pangan lokal tersebut. Sangat disayangkan apabila produk pangan lokal tidak terserap, sudah diolah dan tersedia tapi belum dimanfaatkan secara optimal. Aneka pangan lokal baik juga bagi kesehatan, karena minim gluten," katanya.

Untuk percepatan penyerapan, menurutnya, diperlukan penguatan sektor hilir agar berbagai produk pangan lokal alternatif tersebut mampu diserap secara optimal dan memberikan kebermanfaatan ekonomi bagi para penggeraknya.

Baca juga: Jokowi Sempat Tanyakan Stok Gandum ke Putin dan Zelenskyy

“Dukungan pola konsumsi dan bisnis sangat diperlukan, melalui saluran distribusi dan fasilitasi bagi pengembangan produk pangan baru. Untuk itu, NFA mendorong pelaku usaha baik BUMN Perum Bulog dan Holding Pangan ID FOOD, serta sektor swasta melakukan sinergi peningkatan pendistribusian dan penjualan produk pangan lokal alternatif,” ujarnya.

Arief mengatakan, substitusi seperti inilah yang perlu terus dilakukan, sehingga bukan hanya menjaga ketersediaan bahan pangan, melainkan juga menghemat devisa negara. Jika kita bisa melakukan substitusi pangan yang berbahan baku gandum seperti terigu menjadi tepung beras dan singkong sebanyak 10 persen saja, itu telah sama dengan menghemat Rp 2,4 triliun per tahun.

Selain itu, dengan adanya substitusi tersebut, perekonomian domestik juga akan terus bergerak sehingga industri pengolahan pangan lokal bisa terus berkembang.

Baca juga: Ukraina Minta Turki Tahan Kapal Kargo Berbendera Rusia Yang Memuat Gandum dari Pelabuhan Berdyansk

Lebih lanjut, Arief mengatakan, salah satu konsen NFA adalah meningkatkan keterjangkauan pangan bagi seluruh masyarakat melalui stabilisasi pasokan dan harga pangan serta keanekaragaman konsumsi pangan.

“Upaya peningkatan keanekaragaman pangan tersebut dijalankan melalui Kedeputian Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Tanaman Pangan Badan Pangan Nasional. Kita dorong konsumsi pangan yang memenuhi standar beragam, bergizi seimbang dan aman," tutur Arief.

Sebelumnya, Presiden RI pada kunjungan kerjanya meninjau Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Subang, Selasa (12/7/2022) lalu menyampaikan, bahwa pemerintah saat ini tengah mewaspadai kenaikan harga gandum akibat dinamika geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Untuk itu, kemandirian pangan menjadi faktor yang penting saat ini. Presiden mengajak masyarakat memanfaatkan seluruh lahan dalam berbagai ukuran agar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved