Selain Tertekan Dolar AS, Industri Pertekstilan Terancam Banjir Produk Impor

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menekan industri tekstil di dalam negeri seiring bahan bakunya seperti kapas

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pekerja menata bahan kain di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menekan industri tekstil di dalam negeri seiring bahan bakunya seperti kapas diperoleh dari luar negeri atau impor. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menekan industri tekstil di dalam negeri seiring bahan bakunya seperti kapas diperoleh dari luar negeri atau impor.

Selain itu, pelaku usaha tekstil tanah air juga terancam banjirnya produk garmen dan kain impor karena daya beli masyarakat Indonesia masih baik dibanding negara lainnya.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan, pemerintah harus mencermati masuknya produk impor dari negara-negara produsen garmen dan kain di tengah melemahnya daya beli Amerika Serikat dan negara Eropa.

"Produsen garmen dan kain seperti China , Bangladesh, India, Vietnam akan makin gencar menjual ke negara lain yang daya belinya masih ok seperti Indonesia," ucap Jemmy saat dihubungi, Selasa (26/7/2022).

Baca juga: Dukung Industri Dalam Negeri, KSP Pastikan Pengawasan Produk Tekstil Impor

Melihat kondisi tersebut, Jemmy meminta pemerintah harus mencegah banjirnya produk garmen dan kain impor dari negara tersebut, sebagai upaya melindungi pelaku usaha di dalam negeri yang saat ini sudah tertekan penguatan dolar AS.

Caranya, kata Jemmy, dengan membuat aturan yang ketat terhadap produk luar negeri yang akan masuk ke Indonesia.

"Meregulasi tidak dengan mudah membuka keran impor. Contoh memberi secara bertahap jumlah persetujuan import," ucap Jemmy.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved