Resesi Dunia

Masuk Zona Merah, Inflasi Turki Melonjak Jadi 79,6 Persen

Lonjakan inflasi terjadi setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan memulai eksperimen ekonomi dengan memangkas suku bunga sebesar 500 basis

Adem ALTAN / AFP
Presiden Turki dRecep Tayyip Erdogan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, ANKARA – Inflasi Turki per Juli 2022 melesat ke rekor tertinggi, melonjak 79,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kenaikan inflasi Turki ini jadi yang tertinggi sejak 24 terakhir, tepatnya pada September 1998.

Berdasarkan data yang dirilis Turkish Statistical Institute, Rabu (3/8/2022) lonjakan inflasi terjadi setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan memulai eksperimen ekonomi dengan memangkas suku bunga sebesar 500 basis poin untuk menurunkan harga konsumen.

Baca juga: Inflasi Korea Selatan Menggila, Bulan Juli Tembus Level Tertinggi 6,3 Persen

Erdogan beranggapan dengan memangkas suku bunga ke level terendah dapat mendorong kestabilan harga.

Namun sayangnya saat teori ekonomi konvensional tersebut diterapkan, kondisi perekonomian Turki semakin ambruk hingga jatuh ke zona merah.

Ini terjadi karena nilai tukar mata uang lira Turki merosot di tengah melonjaknya harga pangan dan energi dipasar global.

Alasan tersebut yang membuat laju inflasi di Turki ikut terkerek naik dan melesat ke rekor tertinggi pada bulan Juli kemarin.

“Kejatuhan lira yang tajam dan tidak teratur tetap menjadi risiko utama,” jelas Jason Tuvey, ekonom senior di Capital Economics.

Dimana dalam perdagangan pasar internasional, nilai lira menyusut 44 persen terhadap dolar Amerika Serikat.

Penurunan ini lantas mengantarkan nilai lira anjlok di 17,95 melawan dolar, dari sebelumnya lira dipatok dikisaran 18,4 terhadap dolar.

Tak hanya itu, melonjaknya laju inflasi di Turki juga didorong oleh meningkatnya harga makanan dan energi akibat gejolak pasar global.

Baca juga: Ekonom Ingatkan Pemerintah Waspada Laju Inflasi Dalam Negeri di Tengah Berbagai Tantangan Eksternal

Tercatat harga pangan melambung ke level tertinggi dengan kenaikan 129,3 persen, sementara harga BBM melonjak sebanyak 94,65 persen, dilansir dari Al Jazeera.

Meski saat ini tingkat inflasi Turki tengah melesat naik, namun Erdogan optimis bahwa kebijakannya yang memangkas suku bunga dapat menurunkan angka inflasi di tahun 2023 mendatang.

Mengingat saat ini laju inflasi masih berada dibawah perkiraan bank sentral Turki, dimana sebelumnya mereka memperkirakan bahwa inflasi Turki di sepanjang tahun 2022 dipatok sebesar 80,5 persen.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved