Resesi Dunia

75.000 Warga Inggris Bersumpah Untuk Berhenti Bayar Tagihan Energi

 Inflasi dan krisis energi yang terjadi di Inggris kini membuat warganya mulai menderita dan tidak tenang.

Editor: Hendra Gunawan
AFP
Ilustrasi sudut kota di London, Inggris 

TRIBUNNEWS.COM -- Inflasi dan krisis energi yang terjadi di Inggris kini membuat warganya mulai menderita dan tidak tenang. Resesi Inggris saat ini diklaim menjadi yang paling buruk dalambeberapa dekade.

Melambungnya  harga energi hingga rekor tertinggi membikin, sebuah kelompok anonim bernama 'Don't Pay UK' telah meluncurkan kampanye yang menyerukan kepada 1 juta orang Inggris untuk berhenti membayar tagihan energi mereka pada 1 Oktober, ketika harga diperkirakan akan melonjak.

Anggota kampanye mengatakan bahwa setidaknya 75.000 orang sejauh ini berjanji untuk membatalkan debet langsung mereka untuk gas dan listrik sebagai protes kenaikan biaya.

Baca juga: Dilanda Krisis Energi, Jerman Batalkan Penutupan Operasi Tiga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Pemerintah Inggris sekarang mengecam kampanye itu sebagai "sangat tidak bertanggung jawab," seperti dilansir The Independent pada Kamis (4/8/2022).

"Ini adalah pesan yang sangat tidak bertanggung jawab, yang pada akhirnya hanya akan menaikkan harga untuk semua orang dan mempengaruhi peringkat kredit pribadi," kata juru bicara pemerintah seperti dikutip oleh outlet.

“Meskipun tidak ada pemerintah yang dapat mengendalikan harga gas global, kami memberikan bantuan £37 miliar untuk rumah tangga termasuk diskon £400 untuk tagihan energi, dan £1.200 dukungan langsung untuk rumah tangga yang paling rentan untuk membantu biaya hidup.”

Batas harga energi pemerintah, yang ditetapkan oleh regulator Ofgem, diperkirakan akan naik di atas £3.000 ($3.618) pada 1 Oktober, meningkat hampir 65 persen. Biaya energi sudah naik 54% awal tahun ini.

Don't Pay UK memperkirakan bahwa sekitar 6,3 juta rumah tangga Inggris akan terjerumus ke dalam kemiskinan bahan bakar pada musim dingin, dengan puluhan juta rumah mengalami "stres bahan bakar", yang berarti mereka akan menghabiskan lebih dari 10% pendapatan mereka untuk tagihan energi saja.

Baca juga: Krisis Energi Makin Memanas, Raksasa Gas Intalia Ini Bertekad Salurkan Gas Indonesia ke Eropa

Pemerintah menjelaskan kenaikan biaya energi disebabkan oleh meningkatnya permintaan global, dampak pandemi Covid-19, dan konflik militer yang sedang berlangsung di Ukraina.

Namun, rekor keuntungan yang diposting oleh perusahaan energi seperti pemilik British Gas Centrica telah memicu kegemparan publik dan tuduhan bahwa penyedia menguangkan krisis.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved