Ekonom: Investor Komoditas Diproyeksi Masih Bisa Tambah Cuan hingga Akhir 2022 

Nafan Aji mengatakan, penambahan keuntungan tersebut didorong oleh belum adanya kepastian terkait konflik geopolitik

Istimewa
Pelabuhan angkutan laut pengangkut batubara. Investor di sektor komoditas minyak, batu bara, dan crude palm oil (CPO) diproyeksi masih bisa menambah keuntungan atau cuan hingga akhir 2022. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Investor di sektor komoditas minyak, batu bara, dan crude palm oil (CPO) diproyeksi masih bisa menambah keuntungan atau cuan hingga akhir 2022.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengatakan, hal tersebut didorong oleh belum adanya kepastian terkait konflik geopolitik, di mana setelah terdapat ketegangan di Ukraina, sekarang muncul lagi di Taiwan. 

"Kalau sektor yang masih bisa diperhatikan saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mulai naik, yakni komoditas internasional misalkan batu bara, CPO, dan minyak," ujarnya saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (7/8/2022).

Baca juga: BI Prediksi Inflasi Juli 0,5 Persen, Komoditas Cabai Merah dan Bawang Merah Jadi Penyebab Utama

Diketahui, IHSG tercatat mengalami penguatan pada pekan ini sebesar 1,92 persen menjadi 7.084,65 dari 6.951,12 pada pekan sebelumnya. 

Nafan menjelaskan, sejauh ini harga minyak tetap lebih tinggi dibanding tahun lalu, yakni 89 dolar Amerika Serikat (AS) per barel untuk West Texas Intermediate (WTI). 

"WTI sekarang 89 dolar AS dari sebelumnya pernah 120 dolar AS. Memang sebenarnya ini jadi fokus investor internasional, termasuk ketika terjadi eskalasi konflik di Eropa timur, sempat mendorong kenaikan harga WTI," katanya. 

Kemudian, harga komoditas batu bara yang sempat melebihi 400 dolar AS per metrik ton, kini sudah sedikit melemah kembali.

"Batu bara juga sempat terjadi peningkatan hingga diatas 400 dolar AS. Sekarang, batu bara juga sedang turun harganya di sekira 360 dolar AS, meski secara tahun berjalan masih alami penguatan ratusan persen," tutur Nafan.

Baca juga: Harga Batu Bara Melonjak di Pasar Dunia, DPR Minta Pemerintah Perketat Pengawasan DMO

Lebih lanjut, dia menambahkan, harga CPO saat ini mulai terapresiasi ke atas 4.000 ringgit per ton dari sebelumnya terendah di 3.600 tahun ini. 

"CPO mulai naik dari sebelumnya alami penurunan dan secara tahun berjalan masih negatif 24 persen. Jadi, kelihatannya harga komoditas mulai terdapat sedikit aksi ambil untung," ujarnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved