Analis Sebut Perlambatan Ekonomi China Bakal Berdampak Hingga ke Seluruh Negara Asia

Bank Sentral China kembali memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga 1 tahun, sebagai upaya mengatasi perlambatan ekonomi

Pixabay/SW1994
China mengalami perlambatan ekonomi. Dampaknya terasa hingga di seluruh Asia, di mana harga komoditas semakin mengalami penurunan, dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengungkapkan, tingkat pengangguran berusia 16 hingga 24 tahun di China kembali naik menjadi 19,9 persen, di mana ini merupakan rekor tertinggi. 

Selain itu, terdapat data yang juga menunjukkan adanya krisis kepercayaan antara bisnis dan rumah tangga China, menambahkan ancaman lain terhadap perekonomian dunia karena permintaan dari China tentu akan mengalami penurunan. 

"Dampak dari perlambatan ekonomi China tidak main main lho. Hal ini terasa hingga di seluruh Asia, di mana harga komoditas semakin mengalami penurunan, dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan, karena ada aura pesimis di pasar," ujar dia melalui risetnya, Kamis (18/8/2022).

Baca juga: Saat Bank Sentral Negara Lain Naikkan Suku Bunga, China Malah Lakukan Hal Sebaliknya

Lalu di tengah situasi dan kondisi saat ini pun, China masih terus menggunakan kebijakan Covid zero, di mana penguncian akan dilakukan apabila ada wabah besar yang terjadi. 

Alhasil, hal ini semakin membuat pelaku pasar dan investor pesimis, bahwa pertumbuhan ekonomi China akan bangkit tahun ini. 

"Bahkan banyak proyeksi yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China akan turun di bawah 4 persen," kata Nico. 

Sebagai Informasi, data yang keluar kemarin seperti, produksi industri di Negeri Tirai Bambu secara tahunan turun dari sebelumnya 3,9 persen menjadi 3,8 persen. 

Penjualan ritel secara tahunan, juga mengalami penurunan dari sebelumnya 3,1 persen menjadi 2,7 persen. Investasi properti, juga mengalami penurunan bahkan lebih dalam dari sebelumnya 6,1 persen menjadi 5,7 persen. 

Dengan data data perekonomian kurang baik inilah, Bank Sentral China kembali memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga 1 tahun, sebagai bagian dari langkah langkah yang diharapkan dapat membantu mengakomodir pertumbuhan di masa akan datang.

Baca juga: Di Tengah Ketegangan Geopolitik, China Kembali Pangkas Kepemilikan Surat Utang AS

"Namun pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan akan memberikan dampak atau tidak terhadap pertumbuhan ekonomi? Kami melihat, tidak ada dampak yang mungkin terasa dalam jangka waktu pendek di rengah situasi dan kondisi saat ini," tutur Nico. 

Karena selain, bauran kebijakan fiscal dan moneter, kebijakan terkait dengan Covid pun tampaknya harus dapat di sesuaikan dan beradaptasi dengan keadaan. 

Dia menambahkan, masalahnya adalah kebijakan Covid 19 telah mendorong rumah tangga, dan bisnis enggan untuk melakukan pinjaman. 

"Jadi suka atau tidak, sekalipun kebijakan moneter di ambil, tapi banyak yang tidak melakukan pinjaman karena bisnis tidak bisa tumbuh karena kebijakan Covid yang membuat masyarakat juga enggan melakukan konsumsi. Sejauh ini pertumbuhan kredit saja sudah berada di posisi paling lambat sejak tahun 2017 silam," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved