Gelombang Panas di China Hambat Pengiriman Suku Cadang hingga Tingkatkan Risiko Inflasi

Akibat dari penutupan itu, pengiriman pasokan suku cadang ke beberapa pabrik seperti Tesla, Volkswagen, Toyota, dan perusahaan lainnya akan terhambat.

Freepik
Ilustrasi gelombang panas. Pemerintah Provinsi Sichuan China pada awal pekan ini telah memerintahkan semua pabrik untuk ditutup selama enam hari akibat gelombang panas yang melanda daerah tersebut. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Pemerintah Provinsi Sichuan China pada awal pekan ini telah memerintahkan semua pabrik untuk ditutup selama enam hari akibat gelombang panas yang melanda daerah tersebut.

Dikutip dari The Verge, Jumat (19/8/2022) pembuat baterai kendaraan listrik terbesar di dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), dan Intel merupakan dua dari beberapa perusahaan yang menutup pabriknya.

Akibat dari penutupan itu, pengiriman pasokan suku cadang ke beberapa pabrik seperti Tesla, Volkswagen, Toyota, dan perusahaan lainnya akan terhambat.

Baca juga: Isuzu Buka Depo Spare Parts di Makassar, Percepat Pengiriman Suku Cadang Hingga ke Papua

Sichuan Daily melaporkan bahwa beberapa perusahaan tersebut saat ini tengah mencoba menghemat listrik demi memastikan bahwa daya yang tersedia cukup untuk digunakan di rumah.

Sichuan merupakan area penting bagi industri semikonduktor dan panel surya. Produsen berduyun-duyun ke wilayah yang kaya sumber daya mineral itu untuk mendapatkan bahan baku yang digunakan dalam industri fotovoltaik surya dan elektronik, seperti polisilikon yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan panel surya.

Provinsi ini juga merupakan pusat penambangan penting untuk lithium, yang digunakan untuk memproduksi baterai mobil listrik dan ponsel pintar.

Selain Sichuan, provinsi besar China lainnya yakni Jiangsu, Anhui, dan Zhejiang juga telah mendesak bisnis dan rumah tangga untuk menghemat daya karena gelombang panas telah menghabiskan pasokan listrik.

Beberapa analis percaya, penutupan sementara pabrik dapat meningkatkan harga polisilikon dan lithium karena pasokan turun.

Pada 17 Agustus atau dua hari setelah penutupan, pejabat industri mengonfirmasi bahwa harga polisilikon telah mengalami kenaikan.

Baca juga: Kenaikan Harga BBM Subsidi Berefek Domino, Ekonom : Harga Bahan Pokok Naik Hingga Dongkrak Inflasi

Risiko inflasi

Mengutip dari CNN, gelombang panas ekstrem di China juga mengakibatkan gagal panen di banyak bagian negara itu, dan dikhawatirkan menambah tekanan inflasi bulan lalu.

"Dipengaruhi oleh suhu tinggi yang terus menerus di banyak tempat, harga sayuran segar naik 12,9 persen tahun ke tahun, yang secara signifikan lebih tinggi dari periode yang sama tahun-tahun sebelumnya," kata Fu Linghui, juru bicara Biro Statistik Nasional, mengatakan pada konferensi pers Senin (15/8/2022) di Beijing.

Dia mencontohkan, panas yang ekstrem telah menyebabkan kekeringan di beberapa daerah pertanian di China selatan. Sedangkan di China utara, curah hujan dan banjir juga mengakibatkan beberapa tanaman pertanian gagal panen.

Baca juga: Bank Sentral Sri Lanka Tahan Suku Bunga, Mati-matian Turunkan Inflasi

"Agustus dan September adalah periode kunci untuk pembentukan produksi gandum musim gugur. Kita harus memperhatikan dampak bencana alam, serangga dan penyakit pada produksi pangan negara kita," ujarnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved